Apakabar
sahabat pembaca yang setia, alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita
dipertemukan di tulisan kali ini dengan hati yang bergembira dan sehat selalu.
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengusung judul mengenai Menyustnya Bahasa Daerah. Namun, pada
tulisan kali ini saya hanya beropini, tulisan ini bukan atas dasar observasi
berkala ataupun melalui sebuah penelitian ilmiah.
Pertama
tama saya ucapkan terimakasih kehadirat Allah SWT, atas segala karunianya saya
masih diberi kesempatan untuk menulis maupun melakukan kegiatan bloging, juga
saya haturkan banyak terimakasih kepada pembaca yang meluangkan waktunya untuk
membaca dan memahami artikel ini baik baik.
Mengapa
saya mengusung judul mengenai objek bahasa, terutama bahasa daerah. Yah pertama
adalah bentuk kepedulian saya mengenai budaya asli bangsa Indonesia, yang sudah
terkenal keseantero raya sebagai negri yang kaya akan budaya dan bahasa, banyak
sekali bahasa-bahasa daerah di negri kita ini. Dari sabang hingga merauke,
contohnya ada bahasa sunda, minang, jawa, batak dan lain sebagainya.
Kedua,
adalah karena sikap keprihatinan saya terhadap generasi bangsa yang seakan
sudah lupa akan identitas bangsanya sendiri, lalu kenapa?, jawabannya adalah terhadap kita sendiri bukan
menyalahkan kepada pemerintah,dsb karena kita sendirilah yang secara tidak
langsung melupakan bahkan menghilangkan terhadap nilai nilai budaya bangsa
sendiri.
Kita
cenderung lebih mengadopsi kebiasaan kebiasaan orang barat sebagai gaya hidup
maupun cara berbicara. Akibat dai asimilasi itulah kita menjaadi tidak
terkontrol. Mirisnya semakin kita meniru kebiasaan orang barat, bahkan tidak
hanya budaya yang hilang tapi bisa berujung pada penyusutan moral dan etika
akibat lebih menerima kehidupan yang liberal.
Kelak
mungkin kita tidak mengenal untuk mencium tangan orang tua kita sewaktu
berpergian, ataupun kita tidak mengenal bagaimana berprilaku mana guru mana
murid yang penting bebas sesuka hati untuk bertingkah laku yang berujung pada
demoralisasi.
Lebih
lucu lagi ketika saya mendengar orang yang mencampuradukan bahasa indonesia dan
bahasa daerah seperti, Apa ari maneh?, atau
Urang mau ke Bandung dulu, begitu
parahkaha generasi muda kita, sehingga kita tidak bisa membedaka mana bahasa
daerah mana bahasa resmi.
Menurut
mereka, apa yang di ucapkannya terkesan gaul, mengikuti zaman, udah tidak gaul
lagi orang yang menggunakan bahasa daerah heloooo wkwkw. Yang lebih ironis lagi
adalah ketika kita mendengar orang yang berbahasa inggris namun mulai dari
vocab dan grammernya semrawut dan mereka anggap itu adalah bahasa trend.
Ataupun
dengan gaya hidup yang kebaratan, kita tidak asing lagi melihat perempuan yang
memakai baju yang belum jadi atau kurang bahan hahaha.
Menurut
psikologi, segala kebiasaan kita merupakan rasa ingin tahu yang sangat tinggi,
akabitnya kita mengekspreskan stimulus itu secara terus menerus. Hingga
stimulus itu masuk kedalam long term memory yang akan menjadikan suatu
kebiasaan. Bagusnya kita menggali rasa keingin tahukan kita kepada hal hal yang
positif seperti keingin tahuan akan suatu ilmu fisika, bisnis dll. Bukankah itu
akan menghasilkan uang bagi kita juga prestasi bagi diri sendiri bahkan
kebanggaan tersendiri karena kita sebagai anak bangsa siap untuk menghadapi MEA, bukannya sibuk
mengadopsi gaya hidup orang lain.
Baiklah
sahabat pembaca, saya menghimbau kepada seluruh generasi emas untuk senantias
memilah dan memilih apa yang baik untuk diri kita, karena pada dasarnya jawaban
hati adalah fitra atau suci sehingga tidak mungkin menyimpang dari norma-norma
ang berlaku.
Sampai jumpa dalam tulisan
selanjutnya!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar