Selasa, 06 September 2016

Menyusutnya Budaya Daerah Oleh :Ari Tri Apriansyah



     Apakabar sahabat pembaca yang setia, alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita dipertemukan di tulisan kali ini dengan hati yang bergembira dan sehat selalu. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengusung judul mengenai Menyustnya Bahasa Daerah. Namun, pada tulisan kali ini saya hanya beropini, tulisan ini bukan atas dasar observasi berkala ataupun melalui sebuah penelitian ilmiah.
     Pertama tama saya ucapkan terimakasih kehadirat Allah SWT, atas segala karunianya saya masih diberi kesempatan untuk menulis maupun melakukan kegiatan bloging, juga saya haturkan banyak terimakasih kepada pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca dan memahami artikel ini baik baik.           
     Mengapa saya mengusung judul mengenai objek bahasa, terutama bahasa daerah. Yah pertama adalah bentuk kepedulian saya mengenai budaya asli bangsa Indonesia, yang sudah terkenal keseantero raya sebagai negri yang kaya akan budaya dan bahasa, banyak sekali bahasa-bahasa daerah di negri kita ini. Dari sabang hingga merauke, contohnya ada bahasa sunda, minang, jawa, batak dan lain sebagainya.
   Kedua, adalah karena sikap keprihatinan saya terhadap generasi bangsa yang seakan sudah lupa akan identitas bangsanya sendiri, lalu kenapa?, jawabannya adalah terhadap kita sendiri bukan menyalahkan kepada pemerintah,dsb karena kita sendirilah yang secara tidak langsung melupakan bahkan menghilangkan terhadap nilai nilai budaya bangsa sendiri.
   Kita cenderung lebih mengadopsi kebiasaan kebiasaan orang barat sebagai gaya hidup maupun cara berbicara. Akibat dai asimilasi itulah kita menjaadi tidak terkontrol. Mirisnya semakin kita meniru kebiasaan orang barat, bahkan tidak hanya budaya yang hilang tapi bisa berujung pada penyusutan moral dan etika akibat lebih menerima kehidupan yang liberal.
   Kelak mungkin kita tidak mengenal untuk mencium tangan orang tua kita sewaktu berpergian, ataupun kita tidak mengenal bagaimana berprilaku mana guru mana murid yang penting bebas sesuka hati untuk bertingkah laku yang berujung pada demoralisasi.
   Lebih lucu lagi ketika saya mendengar orang yang mencampuradukan bahasa indonesia dan bahasa daerah seperti, Apa ari maneh?, atau Urang mau ke Bandung dulu, begitu parahkaha generasi muda kita, sehingga kita tidak bisa membedaka mana bahasa daerah mana bahasa resmi.
   Menurut mereka, apa yang di ucapkannya terkesan gaul, mengikuti zaman, udah tidak gaul lagi orang yang menggunakan bahasa daerah heloooo wkwkw. Yang lebih ironis lagi adalah ketika kita mendengar orang yang berbahasa inggris namun mulai dari vocab dan grammernya semrawut dan mereka anggap itu adalah bahasa trend.
   Ataupun dengan gaya hidup yang kebaratan, kita tidak asing lagi melihat perempuan yang memakai baju yang belum jadi atau kurang bahan hahaha.
   Menurut psikologi, segala kebiasaan kita merupakan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, akabitnya kita mengekspreskan stimulus itu secara terus menerus. Hingga stimulus itu masuk kedalam long term memory yang akan menjadikan suatu kebiasaan. Bagusnya kita menggali rasa keingin tahukan kita kepada hal hal yang positif seperti keingin tahuan akan suatu ilmu fisika, bisnis dll. Bukankah itu akan menghasilkan uang bagi kita juga prestasi bagi diri sendiri bahkan kebanggaan tersendiri karena kita sebagai anak bangsa  siap untuk menghadapi MEA, bukannya sibuk mengadopsi gaya hidup orang lain.
   Baiklah sahabat pembaca, saya menghimbau kepada seluruh generasi emas untuk senantias memilah dan memilih apa yang baik untuk diri kita, karena pada dasarnya jawaban hati adalah fitra atau suci sehingga tidak mungkin menyimpang dari norma-norma ang berlaku.
  
Sampai jumpa dalam tulisan selanjutnya!!!!!
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar