1.
Pengertian
Perkembangan
Pengertian
mengenai perkembangan dikemukakan oleh beberapa ahli. Definisi perkembangan
menurut Santrock adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang
berlanjut sepanjang rentang kehidupan manusia.
Desmita mendefinisikan bahwa
perkembangan secara luas adalah keseluruhan proses perubahan dari potensi yang
dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang
baru. Dalam istilah, perkembangan juga mencakup konsep usia yang diwakili dari
saat pembuahan dan berakhir dengan kematian. Perkembangan menghasilkan
bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap
aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi.
Sejalan
dengan pendapat di atas, Jamaris mengungkapkan bahwa perkembangan manusia
secara psikologis merupakan suatu yang merujuk pada perubahan-perubahan
tertentu yang terjadi dalam kehidupan manusia, sejak masa konsepsi sampai mati.
Perubahan dalam perkembangan manusia terjadi secara berurutan dan setiap urutan
perubahan mempunyai masa tertentu yang relatif panjang, seperti masa usia dini,
masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa lanjut usia.
Lebih
spesifik, Seifert & Hoffnung berpendapat bahwa perkembangan sebagai “Long-term changes in a person’s growth,
feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”.
Chaplin mengungkapkan bahwa perkembangan sebagai: (1) perubahan yang
berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2)
pertumbuhan, (3) perubahan bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian
fungsional, (4) kedewasaan kemunculan tingkah laku yang tidak dipelajari.
Sedikit
berbeda dengan pendapat di atas, Baller dan Charles mendefinisikan bahwa
perkembangan boleh didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang tersusun
dan teratur. Semua perubahan dalam perkembangan ini akan membantu individu
dalam proses mencapai kematangan. Perkembangan merupakan perubahan kualitatif
yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Perubahan menunjukkan sifat yang
berbeda daripada tahap perkembangan yang terdahulu.
Senada
dengan pendapat di atas Wolfook mengemukakan bahwa perkembangan adalah
perubahan pada struktur, pendapat dan tingkah laku individu. Perkembangan juga
merupakan perubahan yang bersifat kualitatif tetapi dapat dilihat dengan
membandingkan sifat yang terdahulu dengan sifat yang terbentuk. Dengan kata
lain, perkembangan boleh juga dianggap sebagai proses dimana individu itu
mencapai kematangan, pengukuhan dan kestabilan.
Crow
juga berpendapat bahwa perkembangan merupakan perubahan secara kualitatif serta
cenderung ke arah lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral dan sosial.
Lebih lengkap Wright dan Ann Taylor menyatakan bahwa perkembangan sebagai perubahan yang berlaku
dalam warisan hayat (baka) dan organisasi kepada struktur organisma dalam
keadaan saling berkait serta berhubungan dengan pertambahan umur. Sedangkan Menurut
Garrison, perkembangan dihasilkan dari tindakan yang saling berkaitan diantara
perkembangan jasmani dan pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut Atan Long
menerangkan perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kualitatif.
Perkembangan membawa sesuatu organisme keperingkat matang berterusan berlaku
walaupun peringkat kematangan telah dilampaui.
Darkusno lebih menjabarkan bahwa
perkembangan juga berarti perubahan-perubahan yang dialami individu menuju
tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan
berkesinambungan baik menyangkut fisik maupun psikis. Sistematis
adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau
saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan
merupakan satu kesatuan yang harmonis. Sedangkan progresif merupakan perubahan
yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara kuantitatif
(fisik) maupun kualitatif (psikis). Dan berkesinambungan berarti perubahan pada
bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.
Jadi pada intinya perkembangan adalah
perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu
mulai lahir sampai mati dalam rentang sepanjang hidup manusia. Perkembangan itu
melibatkan banyak faktor, dan terjadi pada setiap periode kehidupan manusia
yang terjadi secara proses kualitatif dan kuantitatif.
Setiap manusia yang hidup di muka bumi
ini akan selalu mengalami perkembangan dalam kehidupannya. Meskipun setiap
manusia memiliki keunikan masing-masing dalam proses perkembangannya. Namun,
perkembangan hidup manusia secara umum dapat dikatakan memiliki urutan dalam
kesamaan dan meskipun memiliki perbedaan dalam kecepatannya.
2.
Pengertian
Kognitif
Istilah
“cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya knowing yang berarti mengetahui. Dalam
arti yang luas Neisser menjelaskan, cognition
(kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah
satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang menurut Chaplin hal
tersebut meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman,
pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan
keyakinan.
Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak)
dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Senada dengan pendapat di atas Susanto kognitif
adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan,
menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif
berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang
dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar.
Selanjutnya menurut Gardner dalam Susanto menyatakan intelegensi sebagai
kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai
dalam suatu kebudayaan atau lebih.
Sedangkan menurut Mayers, “cognition refers to all the mental
activities associated with thinking, knowing and remembering”. Pengertian
hampir senada juga diberikan oleh Margaret W. Maltin, yaitu “cognition or mental activity, involves the
acquisition, storage, retrieval, and use of knowledge”. Pendapat lain
datang dari Kuper & Kuper yang mengemukakan bahwa kognisi adalah istilah
umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi,
penangkapan makna, penilaian, dan penalaran.
Secara umum kognitif diartikan potensi
intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention),
penerapan (application), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation).
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan rasional (akal).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas
dapat disimpulkan bahwa kognitif adalah semua aktivitas mental yang berhubungan
dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan
seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa
depan atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan cara individu
mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, menilai, memperkirakan,
dan memikirkan lingkungannya.
3.
Pengertian
Perkembangan Kognitif
Piaget dalam
Allen (2010: 29) menyatakan perkembangan kognitif adalah proses interaksi yang
berlangsung antara anak dan pandangan perseptualnya terhadap sebuah benda atau
kejadian di suatu lingkungan.
Menurut Syaodih dan Agustin perkembangan
kognitif menyangkut perkembangan berpikir dan bagaimana kegiatan berpikir itu
bekerja. Ernawulan mengungkapkan perkembangan
kognitif menyangkut perkembangan berpikir dan bagaimana kegiatan berpikir itu
bekerja.
Dalam kehidupannya, mungkin saja anak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang
menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang
lebik kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan anak
perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya.
Husdarta
dan nurlan berpendapat bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses menerus,
namun hasilnya tidak merupakan sambungan (kelanjutan) dari hasil-hasil yang
telah dicapai sebelumnya.
Hasil-hasil tersebut berbeda secara kualitatif antara yang satu dengan lainnya.
Anak akan melewati tahapan-tahapan perkembangan kognitif atau periode
perkembangan. Setiap periode perkembangan, anak berusaha mencari keseimbangan
antara struktur kognitifnya dengan pengalaman-pengalaman baru.
Ketidakseimbangan memerlukan pengakomodasian baru serta merupakan transformasi
ke periode berikutnya.
Disisi lain, Elkind mengemukakan bahwa studi tentang
perkembangan kognisi yang dilakukan piaget dapat didefinisikan sebagai suatu
studi tentang pengetahuan dan proses mental yang terlibat, tentang bagaimana
perolehannya dan penggunaannya.
Piaget tidak setuju dengan anggapan bahwa pengetahuan adalah informasi yag
telah dimiliki seseorang sejak lahir. Ia memandang bahwa pengetahuan adalah
suatu proses. Mengetahui sesuatu berarti bertindak pada sesuatu, baik tindakan
fisik ataupun mental.
Mengacu pada teori perkembangan
kognitif, sikap/perilaku menunjukkan berbagai struktur kognitif yang muncul,
mengatur berbagai unit atau pola berpikir yang mempengaruhi interprestasi
pengalaman anak. Teori perkembangan kognitif cenderung berbagi asumsi dasar
yang menunjukkan intelektual, emosi dan kapasitas sosial anak secara umum
walaupun anak memiliki pengalaman yang beragam dan luas.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas
dikatakan bahwa faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan
anak dalam belajar karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu
berhubungan dengan masalah mengingat dan berpikir. Perkembangan kognitif
dimaksudkan agar anak mampu melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui
panca inderanya sehingga dengan pengetahuan yang didapatkannya tersebut anak
dapat melangsungkan hidupnya.
4.
Proses-Proses
Kognitif
Piaget percaya bahwa perkembangan
kognitif dimulai dengan kemampuan bawaan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Sebagai anak-anak menghadapi pengalaman baru, mereka mengubah pandangan mereka
tentang dunia dan bertindak dengan semestinya. Menurut Piaget, seperti yang
terdapat dalam buku Papalia, perkembangan kognitif selama seluruh periode masa
kanak-kanak terjadi melalui tiga prinsip yang saling terkait: organisasi,
adaptasi dan ekuilibrasi.
a. Organisasi
Organisasi
adalah kecenderungan untuk menciptakan struktur kognitif yang semakin kompleks;
sistem pengetahuan atau cara berpikir yang menggabungkan gambar lebih banyak
dan lebih akurat dari realitas. Struktur ini disebut skema yang pola perilaku
yang digunakan seseorang untuk memikirkan dan bertindak dalam situasi
terorganisir. Sebagai anak-anak memperoleh informasi lebih lanjut, skema mereka
menjadi lebih dan lebih kompleks. Bayi memiliki skema sederhana untuk mengisap
tapi segera mengembangkan skema yang bervariasi untuk bagaimana mengisap
payudara, botol, atau ibu jari.
Selain itu, Bukatko & Daehler mencontohkan seperti
tangan, mata, paru-paru, jantung dan struktur organ tubuh lainnya yang dipasang
dan dibentuk untuk menyelesaikan fungsi biologis, begitu pula dengan susunan
struktur mental yang memiliki pola yang lebih kuat untuk mendukung pemikiran
yang lebih rumit. Perubahan ini, bagaimanapun juga tergantung pada kesempatan
untuk melihat dan bersentuhan, berpegangan dan bermain dengan/dan membentuk
serta memerintahkan berbagai pengalaman yang diperolehnya di lingkungan
sekitarnya. Dari beragam pengalaman yang diperoleh dari pengalaman fisik dan
sosial di lingkungannya, anak berhadapan dengan hasil yang tidak diduga dan
membingungkan yang pada akhirnya anak harus mengolahnya melalui pola berpikir.
b. Adaptasi
Adaptasi
adalah istilah Piaget bagaimana anak menangani informasi baru yang tampaknya
bertentangan dengan apa yang sudah diketahui anak. Adaptasi melibatkan dua
proses yakni (1) asimilasi, mengambil informasi dan memasukkan ke dalam
struktur kognitif ada dan (2) akomodasi, mengubah struktur kognitif seseorang
untuk memasukkan pengetahuan baru
c. Ekuilibrium
Ekuilibrium
adalah usaha konstan untuk keseimbangan yang stabil atau keseimbangan yang menentukan
pergeseran dari asimilasi dengan akomodasi. Ketika anak-anak tidak bisa
menangani pengalaman baru dalam struktur yang ada, mereka mengatur pola mental
yang baru yang mengintegrasikan pengalaman baru, sehingga memulihkan
keseimbangan. Sebuah payudara atau botol-makan bayi yang mulai mengisap cangkir
menunjukkan asimilasi-menggunakan skema tua untuk berurusan dengan objek atau
situasi baru. Ketika bayi menemukan bahwa menghirup dari cangkir memerlukan hal
yang berbeda lidah dan mulut gerakan dari yang digunakan untuk menghisap pada
payudara atau botol, ia mengakomodasi dengan memodifikasi skema lama. Dia telah
diadaptasi skema mengisap aslinya untuk menghadapi pengalaman baru: cangkir.
Dengan demikian asimilasi dan bekerja sama untuk menghasilkan akomodasi
keseimbangan dan pertumbuhan kognitif.
Senada dengan pendapat di atas, Santrock
dalam bukunya mengungkapkan bahwa Piaget juga menyatakan bahwa beberapa proses
yang digunakan anak-anak saat mereka membangun pengetahuan mereka tentang dunia
meliputi skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, keseimbangan dan
penyeimbangan.
a. Skema
Piaget
menyatakan bahwa ketika seorang anak mulai membangun pemahamannya tentang
dunia, otak yang berkembang pun membentuk skema. Ini merupakan
tindakan-tindakan atau representasi-representasi mental yang mengorganisasikan
pengetahuan. Dalam teori Piaget, skema-skema perilaku (aktivitas-aktivitas
fisik) mencirikan masa bayi dan skema-skema mental (aktivitas-aktivitas
kognitif) berkembang pada masa kanak-kanak.
Skema-skema
bayi disusun oleh tindakan-tindakan sederhana yang diterapkan pada objek-objek
tertentu, contohnya tindakan menyusu, melihat, dan menggenggam. Anak-anak yang
lebih tua memiliki skema-skema yang meliputi berbagai strategi dan perencanaan
untuk mengatasi persoalan. Sebagai contoh, seorang anak yang berusia 5 tahun
mungkin telah memiliki suatu skema yang meliputi strategi mengklasifikasikan
objek-objek sesuai ukuran, bentuk, atau warna. Saat kita mencapai masa dewasa,
kita telah menyusun beragam skema dalam jumlah amat besar, mulai dari bagaimana
mengendarai mobil, bagaimana menyeimbangkan anggaran, hingga bagaimana
menerapkan konsep keadilan.
b. Asimilasi
dan Akomodasi
Piaget
menawarkan dua konsep yang dikemukakan dalam asimilasi dan akomodasi untuk
menjelaskan bagaimana anak-anak menggunakan skema-skema sambil beradaptasi.
Asimilasi terjadi ketika anak memasukkan informasi baru ke dalam skema-skema
yang ada. Akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan skema-skema mereka
dengan informasi dan pengalaman-pengalaman baru.
Misalnya
ketika seorang anak telah mempelajari kata ‘mobil’ untuk mengidentifikasikan
mobil keluarga. Anak tersebut mungkin akan menyebut semua kendaraan yang
bergerak di jalan sebagai ‘mobil’, termasuk sepeda motor dan truk. Anak
tersebut telah mengasimilasikan objek-objek tersebut ke dalam skema yang ada
padanya. Akan tetapi anak tersebut akan segera mempelajari bahwa sepeda motor
dan truk bukan mobil dan ia akan menyesuaikan skemanya dengan menyingkirkan
‘motor’ dan ‘truk’ dari kategori ‘mobil’.
c. Organisasi
Agar
dapat memahami dunia mereka, Piaget menyatakan bahwa anak-anak secara sadar
mengorganisasikan pengalaman-pengalaman mereka. Dalam teori Piaget, organisasi
adalah pengelompokkan perilaku-perilaku dan pemikiran-pemikiran yang terisolasi
ke dalam system yang lebih teratur dan lebih tinggi. Perbaikan organisasi ini
secara terus menerus merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangannya.
Seorang anak laki-laki yang hanya memiliki pemikiran samar tentang cara
menggunakan sebuah palu mungkin saja memiliki pemikiran samar terhadap
alat-alat pertukangan yang lain. Setelah mempelajari bagaimana menggunakan
salah satu, ia menghubungkan penggunaan-penggunaan ini, mengorganisasikan
pengetahuannya.
d. Penyeimbangan
Equilibration
adalah suatu mekanisme yang diajukan Piaget untuk menjelaskan bagaimana
anak-anak berpindah dari satu tahapan pemikiran ke tahapan pemikiran
berikutnya. Perpindahan ini terjadi karena anak mengalami konflik kognitif atau
disequilibrium dalam usahanya
memahami dunia. Pada akhirnya, mereka akan menyelesaikan konflik tersebut dan
mencapai suatu keseimbangan (equilibrium)
pemikiran. Piaget meyakini adanya pergerakan besar antara berbagai tahapan
keseimbangan dan ketidakseimbangan kognitif ketika proses asimilasi dan
akomodasi berlangsung bersama-sama untuk menghasilkan perubahan kognitif.
Sebagai
contoh, jika seorang anak yakin bahwa jumlah cairan berubah saat cairan
tersebut dituang ke dalam wadah yang berbeda. Contohnya dari wadah yang lebar
dan pendek ke wadah yang tinggi dan sempit. Anak itu mungkin dibingungkan oleh
datangnya cairan ‘tambahan’ dan ia mungkin bertanya-tanya darimana asal cairan
tersebut. Anak tersebut pada akhirnya akan mengerti persoalan tersebut seiring
perkembangan pemikirannya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak tersebut secara
terus menerus akan menghadapi berbagai inkonsistensi dan contoh-contoh
membingungkan seperti di atas.
Asimilasi
dan akomodasi selalu membawa anak ke tingkat yang lebih tinggi. Bagi Piaget,
motivasi untuk berubah adalah pencarian internal akan keseimbangan. Saat
skema-skema lama disesuaikan dan skema-skema baru dikembangkan, anak
mengorganisasi dan mereorganisasi skema-skema lama dan baru. Akhirnya,
organisasi tersebut secara fundamental berbeda dengan organisasi yang lama,
inilah cara berpikir yang baru, tahapan baru.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas,
dapat disimpulkan bahwa proses-proses kognitif atau proses terjadinya
perkembangan melibatkan beberapa proses yang saling berpengaruh dan
berkesinambungan yaitu skema, adaptasi yang didalamnya termasuk asimilasi dan
akomodasi, organisasi, dan ekuilibrium. Beberapa proses di atas menggambarkan
bagaimana seorang anak berkembang kognitifnya, sehingga dapat dilaluinya setiap
tahapan perkembangan kognitif dalam kehidupannya.
B.
TEORI-TEORI
PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PARA AHLI
1.
Teori
Perkembangan Kognitif Piaget
Teori perkembangan kognitif sangat
kental dengan dengan tokoh Jean Piaget. Dalam teori kognitif yang dikemukakan
oleh Piaget menjelaskan tentang kisah terpadu yang menjelaskan bagaimana faktor
biologis dan pengalaman membentuk perkembangan kognitif. Piaget berpikir
sebagaimana tubuh fisik kita memiliki struktur yang memampukan kita beradaptasi
dengan dunia, struktur-struktur mental kita juga membantu kita beradaptasi
dengan dunia. Adaptasi meliputi penyesuaian terhadap tuntutan-tuntutan baru
dari lingkungan. Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia
kognitif mereka sendiri. Informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan
ke dalam pikiran-pikiran mereka. Ia menemukan bagaimana anak-anak, pada
tahapan-tahapan yang berbeda dalam perkembangan mereka, memandang dunia ini dan
bagaimana perubahan yang sistematis itu terjadi dalam pikiran mereka.
Piaget juga menyatakan bahwa anak-anak
secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap
perkembangan kognitif. Setiap tahapan memiliki keterkaitan dengan usia dan
mengandung cara berfikir tertentu, cara yang berbeda, dalam memahami dunia.
Untuk membuat dunia kita masuk akal, kita berusaha mengorganisasikan
pengalaman-pengalaman kita. Dengan demikian, kognisi anak di sebuah tahap
saling berbeda secara kualitatif.
Cara anak-anak berpikir dalam satu
tahapan berbeda dengan cara mereka berpikir pada tahapan yang lain. Setiap
tahapan Piaget berhubungan dengan usia anak yang bersangkutan dan terdiri atas
cara-cara pemikiran yang unik.
Adapun penjelasan mengenai tahapan
perkembangan kognitif menurut Piaget menurut Santrock dalam bukunya sebagai
berikut:
a. Tahap
sensorimotor
Tahapan
ini terjadi pada anak sejak lahir sampai usia 2 tahun, yang merupakan tahapan
pertama dalam teori Piaget.
In
this stage, infants construct an understanding of the world by coordinating
their sensory experiences (such as seeing and hearing) with their motor action,
hence the term sensorimotor. Dalam tahap ini bayi membangun
pemahaman mengenai dunianya dengan cara mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman
sensoris (contohnya melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik dan
motorik inilah asal istilah sensorimotor.
Pada
awal tahapan ini, bayi yang baru lahir hanya memiliki pola perilaku refleks.
Pada akhir tahapan sensorimotor, anak berusia 2 tahun mampu menghasilkan
pola-pola sensorimotor yang kompleks dan menggunakan simbol-simbol primitif.
Dalam
tahapan ini, perubahan yang dialami oleh bayi terlihat dari bulan ke bulan
secara spesifik. Hal tersebut seperti yang dituliskan Santrock dalam bukunya
bahwa Piaget membagi tahap sensorimotor ke dalam enam subtahap sebagai berikut:
1) Refleks
Sederhana
Berhubungan
dengan satu bulan pertama sejak kelahiran. Dalam subtahap ini, koordinasi
sensasi dan tindakan terutama berupa refleks, seperti mencari dan mengisap.
Bayi tidak lama kemudian menampilkan perilaku yang menyerupai refleks tersebut
tanpa adanya stimulus yang memicu refleks itu.
Sebagai
contoh, seorang bayi yang baru lahir akan mengisap puting atau botol susu yang
diletakkan dimulutnya atau disentuhkan ke bibirnya. Namun, tidak lama kemudian
bayi akan mengisap-isap meskipun botol susu dan puting ibu tidak berada
didekatnya. Bahkan pada bulan pertama kehidupannya, bayi akan memulai tindakan
mandiri dengan aktif menstrukturisasi pengalaman-pengalamannya.
2) Kebiasaan
awal dan reaksi sirkuler primer
Tahapan
ini berkembang diantara usia 1 higga 4 bulan. Dalam sub tahap ini bayi mencoba
mengkoordinasikan sensasi dan dua tipe skema yaitu kebiasaan dan reaksi
sirkuler primer. Adapun tentang kebiasaan dan reaksi sirkuler primer akan
dijelaskan di bawah ini:
a) Kebiasaan
Kebiasaan
adalah skema yang didasarkan pada refleks dan pada akhirnya akan menjadi reaksi
yang sepenuhnya terpisah dari rangsangan asli yang membangkitkan refleks itu. Sebagai
contoh bayi dalam subtahap 1 akan mengisap hanya apabila terdapat botol susu
yang diletakkan ke bibirnya atau ketika bayi itu melihat botol susu itu. Bayi
pada sub tahap kedua mungkin akan mengisap-isap meskipun tidak ada botol di
dekatnya.
b) Reaksi
Sirkuler Primer
Reaksi
sirkuler adalah tindakan yang diulang-ulang (repetitif). Reaksi sirkuler
primer merupakan skema yang didasarkan
pada upaya untuk mereproduksi suatu peristiwa yang mulanya terjadi secara
kebetulan. Sebagai contoh, seorang bayi secara kebetulan akan mengisap
jari-jarinya apabila sengaja diletakkan di dekat mulutnya. Selanjutnya, ia
mencari jari-jarinya untuk diisap lagi, namun jari-jarinya belum dapat
dikoordinasikan sesuai keinginan karena ia belum dapat mengkoordinasikan aksi
visual dan manual. Kebiasaan dan reaksi-reaksi sirkuler bersifat stereotip
artinya bayi akan mengulang-ulang dengan cara yang sama setiap kalinya. Selama
sub tahap ini, tubuh bayi akan terus menjadi pusat perhatian bayi. Tidak ada
peristiwa lingkungan yang menarik perhatiannya.
3) Reaksi
sirkuler sekunder
Reaksi
sirkuler sekunder erkembang antara usia 4 sampai 8 bulan. Pada sub tahap ini
bayi lebih berorientasi pada objek, melampaui preokupasi diri. Skema bayi belum
bersifat sengaja atau terarah pada saran, namun diulang-ulang karena perasaan
takjub.
Contohnya
secara kebetulan, seorang bayi mungkin mengguncang-guncang mainan yang
bergemerincing. Bayi mengulang-ulang tindakan ini karena perasaan takjub. Ini
adalah suatu reaksi sirkuler sekunder yaitu tindakan yang diulang-ulang karena
konsekuensi dari tindakan tersebut. Bayi juga melakukan peniruan terhadap
sejumlah tindakan sederhana, seperti berceloteh dan sejumlah bahasa tubuh
sederhana. Meskipun demikian, bayi hanya melakukan peniruan terhadap
tindakan-tindakan yang memang telah mampu dihasilkannya sendiri.
4) Koordinasi
terhadap reaksi sirkuler sekunder
Tahap
ini berkembang diantara usia 8 hingga 12 bulan. Ketika memasuki sub tahap ini,
bayi mampu mengkoordinasikan penglihatan dan sentuhan , yaitu tangan dan mata.
Tindakan-tindakan menjadi lebih diarahkan keluar. Dalam sub tahap ini terjadi
perubahan besar yang melibatkan koordinasi skema-skema dan kesengajaan. Bayi
siap mengombinasikan dan mengombinasi ulang secara koordinasi skema-skema yang
sebelumnya pernah dipelajari. Mereka dapat mengamati sebuah objek dan langsung
menggenggamnya, atau mereka juga dapat menyelidiki sebuah mainan yang
bergemerincing dengan segera menyentuhnya dan mengeksplorasinya dengan
menggunakan jari-jarinya. Tindakan-tindakan bayi bahkan lebih terarah keluar dibandingkan
sebelumnya. Kemampuan koordinasi ini merupakan prestasi kedua munculnya
kesengajaan.
Sebagai
contoh, bayi dapat menggunakan sebuah tongkat untuk mengambil mainan yang
diinginkan atau mereka juga dapat menabrakkan sebuah balok agar dapat meraih
dan bermain dengan balok lain.
5) Reaksi
sirkuler tersier, kesenangan terhadap hal baru, dan keingintahuan
Berkembang
diantara usia 12 hingga 18 bulan. Dalam sub tahap ini, minat bayi semakin
tergugah terhadap berbagai karakteristik objek ataupun segala tindakan yang
dapat mereka lakukan terhadap objek itu. Sebuah kotak dapat dijatuhkan,
diputarkan, ditabrakkan ke objek lain, dan digelindingkan. Reaksi sirkuler
tersier adalah skema dari eksplorasi kesengajaan oleh bayi terhadap
kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat dilakukan pada objek tertentu dan
mengamati hasilnya. Menurut Piaget, tahap ini menandai titik awal perkembangan
keingintahuan dan minat terhadap hal baru.
6) Internalisasi
skema
Tahapan
ini merupakan subtahap sensorimotor yang terakhir dan berlangsung di antara
usia 18 hingga 24 bulan. Dalam sub tahap ini, bayi mengembangkan kemampuan
untuk menggunakan simbol-simbol primitif.
Menurut
Piaget simbol adalah gambaran sensoris atau kata yang diinternalisasi
memoresentasikan sebuah peristiwa. Simbol-simbol primitive memungkinkan bayi
untuk memikirkan peristiwa-peristiwa konkret tanpa harus secara langsung
melakukan atau melihantnya. Selain itu, simbol-simbol juga memungkinkan bayi
untuk memanipulasi dan mentransformasi peristiwa-peristiwa dengan cara
sederhana.
Dalam
masing-masing subtahap pada tahapan sensorimotor terdapat kekhususan yang harus
diperhatikan agar orang tua mampu memberikan stimulasi lingkungan yang tepat
pada anak. Hal itu dilakukan agar anak benar-benar dapat melalui masing-masing
sub tahapan dengan baik.
Adapun
secara lebih ringkas, sub tahap dalam tahan sensorimotor dirangkum dalam tabel
di bawah ini:
Tabel 2.1
Subtahap Dalam Tahapan Sensorimotor
|
Sub Tahap
|
Usia
|
Deskripsi
|
Contoh
|
|
Refleks
Sederhana
|
Lahir hingga 1
bulan
|
Koordinasi
sensasi dan tindakan melalui perilaku refleks.
|
Refleks
mencari, mengisap, dan menggenggam secara refleksif, bayi yang baru lahir
akan mengisap ketika bibirnya disentuh.
|
|
Kebiasaan awal
dan reaksi sirkuler
|
1 hingga 4
bulan
|
Koordinasi
sensasi dan dua jenis skema: kebiasaan (refleks) dan reaksi sirkuler primer
(usaha memproduksi suatu peristiwa yang mulanya terjadi secara kebetulan).
Fokus utamanya masih di sekitar tubuh bayi.
|
Mengulang
sensasi tubuh yang awalnya dialami secara kebetulan (contohnya mengisap
jempol), kemudian bayi mungkin melakukan akomodasi tindakannya dengan
mengisap jempol mereka dengan cara yang berbeda dari mengisap putting.
|
|
Reaksi
sirkuler sekunder
|
4 hingga 8
bulan
|
Bayi lebih
berorientasi pada objek, melampaui preokupasi terhadap diri sendiri; tindakan
diulang-ulang karena takjub atau menyenangkan.
|
Bayi mendekut
agar orang tetap berada di dekatnya; ketika orang itu menjauh; bayi mendekut
lagi.
|
|
Koordinasi
reaksi sirkuler sekunder
|
8 hingga 12
bulan
|
Koordinasikan
penglihatan dan sentuhan tangan dan mata; koordinasi skema dan kesengajaan.
|
Bayi
memanipulasi sebuah tongkat untuk mengambil mainan yang menarik.
|
|
Reaksi
sirkuler tersier, kesenangan terhadap hal baru, dan keingintahuan
|
12 hingga 18
bulan
|
Minat bayi
semakin tergugah terhadap berbagai karakteristik objek ataupun segala yang
dapat mereka lakukan terhadap objek itu; mereka bereksperimen dengan perilaku
baru.
|
Sebuah kotak
mungkin dijatuhkan, diputar, ditabrakkan ke benda lain, dan digelindingkan.
|
|
Internalisasi
skema
|
18 hingga 24
bulan
|
Bayi
mengembangkan kemampuan menggunakan simbol-simbol primitif dan membentuk
representasi mental yang menetap.
|
Bayi yang
belum pernah menunjukkan tempertantrum sebelum melihat kawannya menunjukkan
perilaku ini; bayi menyimpan memori mengenai suatu peristiwa, kemudian
menampilkan perilaku itu di hari berikutnya.
|
b. Tahap
praoperasional
Tahapan
praoperasional ini merupakan tahapan kedua dan terjadi pada anak pada usia 2 –
7 tahun.
The
child begins to represent the world with words and images. These words and
images reflect increase symbolic thinking and go beyond the connection of
sensory information and physical action.
Dalam
tahap ini anak-anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata, bayangan,
dan gambar-gambar. Pemikiran-pemikiran simbolik berjalan melampaui
koneksi-koneksi sederhana dari informasi sensorik dan tindakan fisik. Konsep
stabil mulai terbentuk, pemikiran-pemikiran mental muncul, egosentrisme tumbuh,
dan keyakinan-keyakinan magis mulai terkonstruksi.
Karena
oleh Piaget tahap ini disebut “praoperasional”, maka seolah-olah periode ini
merupakan periode menunggu yang tidak penting. Hal ini tidak benar. Meskipun
demikian, label praoperasional memberi penekanan bahwa anak belum melakukan
operasi, yaitu aktivitas mental yang dibalik yang memungkinkan anak-anak untuk
membayangkan hal-hal yang dulunya hanya dapat dilakukan secara fisik.
Membayangkan operasi penambahan dan pengurangan merupakan contoh-contoh
operasi. Pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan melakukan rekonstruksi
dalam pikiran terhadap hal-hal yang telah dicapai dalam bentuk perilaku.
Tahap
ini dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan yaitu sutahap fungsi simbolik dan
subtahap pemikiran intuitif. Adapun sub tahapan akan dijelaskan di bawah ini:
1) Subtahap
fungsi simbolik
Tahapan
ini terjadi antara usia 2 hingga 4 tahun. Anak kecil memperoleh kemampuan untuk
membayangkan penampilan objek yang tidak hadir secara fisik. Kemampuan ini
secara cepat dapat memperluas dunia mental anak. Anak-anak kecil menggunakan coretan-coretan
untuk mempresentasikan manusia, rumah, mobil, awan, dan sebagainya. Mereka
mulai menggunakan bahasa dan terlibat dalam permainan pura-pura. Meskipun di
dalam sub tahap ini anak-anak kecil sudah membuat kemajuan yang berarti,
pemikiran mereka masih terbatas; dua bentuk keterbatasan ini adalah
egosentrisme dan animisme.
a) Egosentrisme
Egosentrisme
adalah ketidakmampuan membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif
orang lain. Piaget dan Barbel Inhelder awalnya mempelajari egosentrisme anak-anak
kecil dengan membagi tugas mengenai tiga gunung. Sang anak berjalan di sekitar
model gunung dan menjadi terbiasa dengan penampang gunung itu dari berbagai
perspektif yang berbeda, dan ia dapat melihat ada objek-objek yang berbeda di
pegunungan itu. Kemudian anak didudukkan di salah satu sisi meja yang di
atasnya diletakkan pegunungan itu.
Peneliti
menempatkan sebuah boneka ke lokasi-lokasi yang berbeda di sekeliling meja di
setiap lokasi, sang anak diminta untuk memilih salah satu dari serangkaian foto
yang paling tepat mencerminkan pemandangan yang dapat dilihat oleh boneka
tersebut. Anak-anak yang berada pada tahapan pra operasional seringkali
menunjuk foto menurut yang dilihatnya sendiri dibandingkan yang dilihat oleh
boneka. Anak-anak prasekolah seringkali memperlihatkan kemampuan untuk
menggunakan perspektif orang lain pada sejumlah tugas, namun tidak pada
tugas-tugas lainnya. Gambar tersebut tampak seperti di bawah ini
Gambar 2.1. Piaget’s
Three-Mountain Task
Secara lebih jelas, egosentrisme pandangan anak akan
gunung tersebut tampak seperti gambar di bawah ini
Gambar 2.2 The Three
Mountains Task
Contoh
lain yang terlihat egosentris terlihat pada percakapan telepon antara seorang
ayah dengan anaknya, Mary (yang berusia 4 tahun) menunjukkan pemikiran Mary
yang egosentris. Mary berada di rumah dan ayahnya berada di kantor.
Ayah: Mary, apa
ibu ada di rumah?
Mary:
(Mengangguk)
Ayah: Mary,
halo. Ibu ada? Ayah boleh berbicara dengan ibu?
Mary: (Kembali
menganggukkan kepalanya)
Respon
Mary bersifat egosentris, artinya ia gagal mempertimbangkan perspektif ayahnya
sebelum menjawab. Seorang yang tidak berpikir egosentris akan merespons secara
verbal.
b) Animisme
Animisme
merupakan keterbatasan lain dari pemikiran praoperasional. Animisme adalah
keyakinan bahwa benda-benda mati memiliki kualitas yang seolah-seolah hidup dan
mampu beraksi. Seorang anak kecil mungkin memperlihatkan animisme ketika
mengatakan “pohon itu mendorong dau, sehingga daunnya jatuh, “ atau “ trotoar
itu mmebuat saya marah; trotoar itu menyebabkan saya terjatuh.”
Seorang
anak kecil yang menggunakan animisme sulit membedakan antara
peristiwa-peristiwa yang tepat bagi penggunaan perspektif manusia dan bukan
manusia. Hal itu disebabkan anak-anak kecil tidak terlalu menaruh perhatian pada
realitas; hasil gambar mereka bersifat khayalan dan berdaya cipta. Matahari
yang berwarna biru, langit yang berwarna kuning, dan mobil yang melayang di
awan semuanya adalah dunia simbolis dan imajinatifnya.
Selain
itu, seorang anak berusia 3,5 tahun memperhatikan gambar acak-acakan yang ia
buat dan mendeskripsikannya sebagai “burung pelikan sedang mencium anjing laut”.
Simbolismenya sederhana tapi kuat, seperti gambar abstrak yang ditemukan dalam
beberapa seni lukis modern berikut ini.
Gambar 2.3 A 3½ Year Old’s
Symbolic Drawing. Halfway Nto This Drawing, The 3½ Year Old Said It Was “A
Pelican Kissing A Seal”
Pelukis
abad ke 20, Pablo Picasso pernah berkomentar “saya bisa melukis sebagus
Raphael, tapi seumur hidup untuk mampu menggambar seperti seorang anak.”
Dalam
tahun-tahun di sekolah dasar, gambar-gambar seorang anak menjadi lebih
realistis, rapi dan tepat. Matahari berwarna kuning, langit berwarna biru, daun
berwarna hijau dan mobil berjalan di jalan raya. Seperti gambar pohon yang tampak di bawah ini
Gambar 2.4 This 11 Years Old’s Drawing Is
Neater And More Realistic But Also Less Inventive
2) Subtahap
berpikir intuitif
Tahap
ini terjadi di usia 4 hingga 7 tahun. Pada subtahap ini, anak-anak mulai
menggunakan penalaran primitive dan ingin mengetahui jawaban terhadap segala
jenis pertanyaan. Anak-anak pada tahapan ini mulai mengembangkan idenya sendiri
mengenai dimana ia tinggal, idenya masih sederhana, dan ia belum terlalu baik
dalam menyelesaikan masalah. Ia memiliki kesulitan dalam memahami
peristiwa-peristiwa yang terjadi namun tidak dapat dilihatnya. Fantasinya
kurang memiliki kaitan dengan realitas. Ia belum mampu menjawab pertanyaan “
Bagaimana seandainya?” sebagai contoh, ia hanya memiliki gagasan yang samar
mengenai apa yang akan terjadi seandainya sebuah mobil menabraknya.
Pada
usia 5 tahun, anak-anak akan mebuat orang dewasa kelelahan karena banyak
mengajukan pertanyaan “ mengapa”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini
mengindikasikan munculnya minat terhadap penalaran dan berusaha memahami
mengapa berbagai hal berlangsung seperti adanya. Beberapa contoh pertanyan yang
diajukan anak-anak ketika berusia 4 hingga 6 tahun antara lain:
“
apa yang membuat kamu bertumbuh besar?”
“
siapa yang menjadi ibu jika semua orang adalah bayi?”
“
mengapa daun jatuh?”
“mengapa
matahari bersinar?”
Tahapan
ini disebut tahapan intuitif karena anak-anak kecil tampaknya demikian yakin
terhadap pengetahuannya dan pemahamannya meskipun mereka belum menyadari
bagaimana mereka mengetahui ha-hal yang mereka ketahui itu. Kesimpulannya,
anak-anak mengetahui sesuatu namun mengetahuinya tanpa pemikiran rasional.
Salah
satu keterbatasan pemikiran praoperasioanl adalah pemusatan, yakni memusatkan
atensi pada sebuah karakteristik sehingga mengesampingkan karakteristik
lainnya. Pemusatan adalah gejala yang paling jelas muncul pada anak-anak kecil
yang belum memiliki konservasi, yakni kesadaran bahwa mengubah suatu objek atau
suatu substansi tidak mengubah properti dasarnya. Sebagai contoh, orang dewasa
pasti memahami betul bahwa jumlah cairan akan tetap sama meskipun bentuk
wadahnya berbeda. Hal ini tidak jelas bagi anak–anak kecil. Mereka justru
terpaku pada ketinggian cairan yang berada di dalam wadah; mereka memfokuskan
karakteristik wadah sehingga mengesampingkan karakteristik lainnya. Hal tersebut tampak seperti gambar di bawah ini
Gambar 2.5 Piaget’s Conservation Task
c. Tahap
operasional konkret (7 – 11 tahun)
Tahapan
ketiga ini berlangsung pada saat anak berusia sekitar 7 – 11 tahun.
Concrete
operational thought involves using operations. Logical reasoning replace
intuitive reasoning, but only in concrete situations. Classification skills are
present, but abstract problems go unsolved.
Pada
tahapan ini, pemikiran logis menggantikan pemikiran intuitif asalkan pemikiran
tersebut dapat diaplikasikan menjadi contoh-contoh yang konkret atau spesifik.
Dalam tahapan ini, anak-anak dapat melakukan operasi yang melibatkan
objek-objek dan juga dapat bernalar secara logis, sejauh hal itu diterapkan
dengan contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Pemikir operasi konkret tidak
dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu
persamaan aljabar, karena terlalu abstrak untuk dipikirkan pada tahap
perkembangan ini.
Perlu
diingat bahwa operasi adalah kegiatan mental dua arah dan operasi-operasi
konkret adalah operasi yang diaplikasikan pada objek-objek yang riil dan
konkret. Operasi-operasi konkret memungkinkan anak memikirkan beberapa
karakteristik dan bukan berfokus pada suatu property tunggal suatu obyek. Salah
satu karakteristik lain dari anak yang telah mencapai tahap ini adalah
kemampuan mengklasifikasikan atau membagi benda-benda ke dalam
perangkat-perangkata atau subperangkat yang berbeda dan memperhitungkan keterkaitannya.
Beberapa
hal penting dalam tahapan ini adalah konservasi, klasifikasi, seriatiom,
Transitivity:
1) Konservasi
Tugas
konservasi mendemosntrasikan kemampuan anak dalam melakukan operasi-operasi
konkret. Dalam tes kemampuan pembalikan berpikir yang melibatkan konservasi
materi (bahan). Seorang anak dihadapkan pada dua buah gumpalan tanah liat.
Pembuat eksperimen mengubah bentuk gumpalan tanah liat yang satu menjadi bentuk
yang panjang dan ramping, sementara yang lain tetap seperti bentuk semula.
Gambar 2.6 Beberapa Dimensi Dari Konservasi : Jumlah, Bahan Dan
Panjang
2) Klasifikasi
Banyak
operasi-operasi konkret yang diidentifikasikan Piaget melibatkan cara anak
berpikir tentang karakteristik objek. Satu keahlian khusus yang mencirikan operasional
konkret anak adalah kemampuan untuk mengklasifikasikan benda dan memahami
relasi antar benda tersebut. Kemampuan operasional konkret anak untuk membagi
benda menjadi kumpulan dan sub kumpulan dann memahami relasinya diilustrasikan
oleh pohon keluarga empat generasi.
Gambar 2.7 Classification
Pohon
keluarga di atas menggambarkan kakek (A) memiliki tiga orang anak (B, C, D),
tiap orang anak memiliki dua orang anak (E sampai J), dan salah satu dari
anak-anak tersebut (J) punya tiga orang anak (K, L, dan M). Seorang anak dengan
operasional konkret dapat memahami bahwa J, pada saat bersamaan dapat menjadi
ayah, saudara, dan cucu. Seorang anak yang memahami system klasifikasi ini
dapat bergerak dalam system tersebut secara vertical, horizontal, atau
diagonal.
3) Seriation
Seriation
adalah tindakan mengurutkan stimuli diantara dimensi kuantitatif (seperti
panjang). Untuk melihat apakah anak mampu melakukan seriation, seorang guru
dapat meletakkan delapan tongkat dengan panjang yang berbeda, secara acak di
atas meja. Kemudian guru meminta anak mengurutkan tongkat tersebut berdasarkan
panjangnya. Pemikir operasional konkret secara serempak memahami bahwa tiap
tongkat harus lebih panjang dari yang lain dan meletakkan tongkat yang lebih
panjang di awal diikuti yang lebih pendek, dan seterusnya.
4) Transivity
Transivity
ialah kemampuan memikirkan relasi gabungan secara logis. Jika ada relasi antara
objek pertama dan kedua, dan ada relasi antara objek kedua dan ketiga, maka ada
relasi antara objek pertama dan ketiga. Contohnya ada tiga buah tongkat (A, B,
dan C) dengan panjang berbeda. A adalah tongkat terpanjang, B lebih pendek dari
A namun lebih panjang dari C. Apakah A lebih panjang dari C? Dalam teori
Piaget, pemikir operasional konkret akan menjawab ya; sedangkan pemikir
praoperasional akan menjawab tidak.
d. Tahap
operasi formal
Tahap
ini merupakan tahapan keempat yang berlangsung pada saat anak berusia 11 sampai
dewasa.
At
this stage individuals move beyond reasoning only about concrete experiences
and think in more abstract, idealistic, and logical ways.
Dalam
tahap ini individu melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara
abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari pemikiran yang lebih abstrak,
remaja mengembangkan gambaran mengenai keadaan yang ideal. Mereka dapat
berpikir mengenai konsep orang tua yang ideal dan membandingkan orang tua
mereka dengan standar ideal ini. Mereka mulai mempersiapkan
kemungkinan-kemungkinan di masa depan dan kagum dengan hal-hal yang dapat
mereka lakukan. Dalam aspek memecahkan masalah, mereka dapat bekerja secara lebih sistematis dengan
mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi seperti itu kemudian
menguji hipotesis tersebut. Dalam menyelesaikan persoalan, para pemikir formal
ini akan lebih sistematis dan menggunakan pemikiran logis.
Kualitas
abstraksi pemikiran pada tingkat operasional formal terlihat jelas dalam
kemampuan remaja menyelesaikan masalah verbal. Pemikir operasional konkret
perlu melihat elemen-elemen konkret A, B, dan C agar mampu membuat kesimpulan
logis bahwa jika A=B dan B=C maka A= C. Pemikir operasional formal mampu
menyelesaikan persoalan ini melalui presentasi verbal.
Indikasi
kualitas abstrak yang lain pada pemikiran remaja adalah meningkatnya tendensi
memikirkan dirinya sendiri. Seorang remaja berkomentar. ‘ aku suka berpikir
tentang mengapa aku memikirkan tentang apa yang sedang aku pikirkan.’ Jika hal
ini terdengar abstrak, memang demikian ini menunjukkan peningkatan fokus remaja
pada pikiran beserta aspek-aspek abstraknya.
Ketika
remaja mulai berpikir lebih abstrak dan idealis, mereka juga belajar berpikir
lebih logis. Anak-anak sering memecahkan masalah dalam pola trial and error. Remaja mulai ber[ikir
seperti seorang ahli, merancang perencanaan-perencanaan untuk menyelesaikan
masalah dan secara sistematis menguji solusi-solusi tersebut. Mereka
menggunakan pemikiran hipotesis-induktif, yakni mengembangkan hipotesa-hipotesa
terbaik, dan secara sistematis menyimpulkan langkah-langkah terbaik guna
pemecahan masalah.
Santrock dalam bukunya mengemukakan
tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget sebagai berikut:
Tabel
2.2 Tahapan Perkembangan Kognitif Piaget
dalam Santrock
|
Tahapan
|
Usia
|
Uraian
Tahapan Perkembangan
|
|
Sensorimotor
|
Lahir – 2
tahun
|
Bayi membangun
pemahaman mengenai dunianya dengan mengoordinasikan pengalaman-pengalaman
sensoris melalui melihat dan mendengar dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik.
|
|
Praoperasi
|
2–7 tahun
|
Anak-anak
mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar, melampaui hubungan
sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik.
|
|
Operasi
konkret
|
7-11 tahun
|
Anak-anak
dapat melakukan operasi yang melibatkan obyek obyek dan juga dapat bernalar
secara logis, sejauh hal itu diterapkan dengan contoh-contoh yang spesifik
atau konkret.
|
|
Operasi Formal
|
11-15 tahun
|
Individu
melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih
logis.
|
Pembahasan Santrock mengenai teori
perkembangan kognitif Piaget, diperkuat dengan
pembahasan Slavin dalam bukunya yang membagi perkembangan kognitif anak ke
dalam 4 periode utama yang berkorelasi dan semakin canggih seiring pertambahan
usia. Adapun penjelasan pada masing-masing tahapan adalah sebagai berikut:
a. Tahap
Sensorimotor (Saat Lahir hingga Usia 2 tahun)
Tahap
paling awal disebut sensorimotor karena selama tahap ini bayi dan anak kecil
menjajaki dunia mereka dengan menggunakan indera dan kemampuan motorik mereka. Pada
awalnya semua bayi mempunyai perilaku bawaan yang disebut gerakan refleks, yaitu tanggapan otomatis terhadap rangsangan.
Perilaku yang muncul karena refleks ini merupakan landasan pembentukan skema
pertama bayi tersebut.
Refleks
ini menjadi pembelajaran awal yang terjadi secara kebetulan dan kemudian
melalui upaya uji coba yang lebih intensif. Pada akhir tahap sensorimotor,
anak-anak akan beralih dari pendekatan pemecahan masalah yang sebelumnya
bersifat uji coba ke pendekatan yang lebih terencana. Disinilah muncul apa yang
dinamakan “pemikiran” berarti anak dapat memikirkan dan merencanakan apa yang
akan dilakukan atau apa yang terjadi.
Tanda
periode sensorimotor lainnya adalah pemahaman tentang keajegan objek (object
permanence),
yaitu anak akan belajar memahami bahwa objek adalah stabil secara fisik dan
tetap ada meskipun objek tersebut tidak tampak/terlihat secara fisik oleh si
anak. Dalam pemahaman keajegan objek ini mereka telah melangkah setahap ke arah
pemikiran yang lebih maju.
b. Tahap
Praoperasional (Usia 2 sampai 7 tahun)
Pada
tahap ini anak-anak prasekolah mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk
memikirkan sesuatu dan dapat menggunakan simbol untuk melambangkan objek ke
dalam pikiran. Selama tahap praoperasional, bahasa dan konsep anak berkembang
dengan kecepatan yang luar biasa. Menurut Piaget anak kecil tidak mempunyai
pamahaman tentang prinsip konservasi,
yaitu konsep bahwa sifat tertentu suatu objek akan tetap sama meskipun terjadi
perubahan sifat lain. Misalnya, banyak air dalam gelas yang berukuran lebih
tinggi berdiameter kecil adalah sama banyaknya dengan air tersebut yang dituang
ke gelas yang lebih pendek tapi berdiameter lebih besar. Namun beberapa anak
masih beranggapan bahwa banyaknya air dalam gelas yang lebih tinggi itulah yang
lebih banyak. Kesalahan pemikiran ini karena adanya keterpusatan, yaitu memberikan perhatian hanya pada satu aspek
objek atau situasi. Anak hanya terpusat pada ketinggian air dalam gelas yang
lebih tinggi.
Pemikiran
anak prasekolah juga belum dapat memahami seuatu perilaku yang dibalik yang
disebut reversibilitas, yaitu
kemampuan melakukan pengoperasian pikiran dan kemudian membalik pemikiran
seseorang untuk kembali ke titik semula.
Selain
itu anak-anak praoperasi bersifat egosentris
dalam pemikirannya, mereka beranggapan bahwa setiap orang melihat dunia ini
seperti yang mereka lihat menurut “kacamata” mereka.
c. Tahap
Operasi Konkret (Usia 7 hingga 11 tahun)
Pada
tahap ini anak-anak sekolah dasar juga belum memiliki pemikiran seperti orang
dewasa, mereka masih kesulitan dengan pemikiran abstrak. Anak-anak
mengembangkan kemampuan untuk bernalar logis dan memahami konservasi, tetapi
hanya dapat menggunakan kedua kemampuan ini dalam menghadapi situasi yang sudah
tidak asing lagi.
Perbedaan
mendasar antara anak praoperasi dan operasi konkret adalah bahwa anak-anak yang
lebih muda, yang berada pada tahap praoperasi, menanggapi tampilan yang
dipahaminya, sedangkan anak operasi konkret yang lebih tua menanggapi realitas yang disimpulkannya (inferred reality), yaitu dapat memahami
makna berdasar informasi yang relevan.
Salah
satu tugas penting yang dipelajari anak-anak selama tahap operasi konkret
adalah pengurutan (seriation), yaitu menyusun objek ke
dalam susunan yang berurutan berdasarkan satu aspek, seperti ukuran besar,
berat, atau volume. Begitu kemampuan ini diperoleh, maka anak-anak dapat
menguasai kemampuan terkait yang dikenal sebagai transitivitas, yaitu kemampuan menyimpulkan hubungan antara dua
objek berdasarkan pengetahuan tentang hubungannya masing-masing dengan objek
ketiga.Anak dapat menyusun dan membandingkan objek-objek ke dalam pikiran.
Misalnya, anak-anak sudah mempunyai kemampuan mental untuk mempelajari
bagaimana menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi, mengurutkan bilangan,
menggolongkan objek berdasarkan kriteria, memahami waktu dan ruang dengan cukup
baik dan mengembangkan pemahaman tentang peristiwa yang telah terjadi.
Anak-anak
sekolah dasar juga bergeser dari pemikiran egosentris ke pemikiran yang tidak
terpusat atau obyektif. Mereka bisa menerima pandangan orang lain terhadap satu
hal yang mungkin saja berbeda. Kemampuan terakhir yang diperoleh anak-anak
selama tahap operasi konkret adalah penyertaan
ke kelompok (class inclusion).
Pertama, mereka tidak lagi memperlihatkan ireversibilitas pemikiran dan
sekarang dapat menciptakan kembali hubungan antara bagian dan keseluruhan.
Kedua, pemikiran operasi konkret tidak terpusat, sehingga anak itu dapat
berfokus pada dua kelompok secara bersamaan. Ketiga, pemikirannya tidak lagi
terbatas pada penalaran tentang hubungan bagian dengan bagian tapi juga
hubungan bagian dengan keseluruhan. Proses perubahan kemampuan ini terjadi
tidak secara bersamaan tetapi secara perlahan-lahan selama tahap operasi
konkret.
d. Tahap
Operasional Formal (Usia 11 hingga Dewasa)
Biasanya
remaja mulai sanggup berpikir abstrak dan melihat sejumlah kemungkinan.
Kemampuan ini terus berkembang hingga masa dewasa. Dalam tahap ini muncul
kemampuan menghadapi situasi potensial
atau hipotesis secara abstrak dan dapat bernalar secara logis tentang
situasi atau kondisi yang belum pernah dialami.Pemecahan terhadap suatu masalah
diselesaikan lebih sistematis. Sedangkan anak operasi konkret akan lebih bias
atau tidak sistematis dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan yang sama
yang diberikan kepada remaja operasi formal.
Menghasilkan hubungan yang abstrak dari
informasi yang tersedia dan kemudian membandingkan hubungan abstrak tersebut
satu sama lain adalah menunjukkan bahwa kemampuan mengalami kemajuan atau
perkembangan.Sedangkan anak operasi konkret belum memiliki kemampuan ini dengan
baik, mereka mungkin akan menanggapi situasi konkret namun bukan memahami apa
makna yang terjadi.
Dalam menghadapi kondisi hipotesis,
remaja dapat menerima untuk kepentingan diskusi, kondisi yang dapat berubah,
bahkan memahami hal yang bertentangan dengan fakta, sehingga remaja dapat
menerapkan logika ke setiap kondisi tertentu. Kemampuan yang membentuk
pemikiran operasi formal (berpikir abstrak, menguji hipotesis, dan membentuk
konsep yang terlepas dari realitas fisik) sangat berperan penting ketika
mempelajari kemampuan yang lebih tinggi, misalnya mempelajari aljabar dan
geometri abstrak, memahami konsep rumit dalam ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial dan mata pelajaran yang lain.
Menurut Piaget, tahap operasi formal
mengakhiri perkembangan kognisi. Namun, pertumbuhan intelektual dapat terus
berlangsung melampaui usia remaja. Semua tahapan itu merupakan fondasi dan
tidak diperlukan lagi pengembangan struktur baru, satu-satunya yang perlu
dikembangkan adalah penambahan pengetahuan dan pengembangan skema yang lebih
rumit.
Adapun ringkasan pembahasan mengenai
tahap-tahap perkembangan Piaget adalah:
Tabel 2.3
Tahapan Perkembangan Kognitif Piaget dalam Slavin
|
Tahap
|
Perkiraan Usia
|
Pencapaian Utama
|
|
Sensorimotor
|
Saat Lahir hingga 2 tahun
|
Pembentukan konsep
“keajekan objek” dan kemajuan bertahap dari perilaku refleks ke perilaku yang
diarahkan oleh tujuan.
|
|
Praoperasi
|
2 hingga 7 tahun
|
Perkembangan kemampuan menggunakan
simbol untuk melambangkan objek di dunia ini. Pemikiran masih terus bersifat
egosentris dan terpusat.
|
|
Operasi Konkret
|
7 hingga 11 tahun
|
Perbaikan kemampuan
berpikir logis. Kemampuan baru meliputi penggunaan pengoperasian yang dapat
dibalik. Pemikiran tidak terpusat dan pemecahan masalah kurang dibatasi oleh
egosentrisme. Pemikiran abstrak tidak mungkin
|
|
Operasi Formal
|
11 tahun hingga dewasa
|
Pemikiran abstrak dan
semata-mata simbolik dimungkinkan. Masalah dapat dipecahkan melalui
penggunaan eksperimentasi sistematik.
|
Sejalan dengan hal tersebut, Laura E.
Berk juga berpendapat mengenai teori
perkembangan kognitif menurut Piaget. Laura E. Berk mengungkapkan bahwa
perkembangan kognitif terdiri dari beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap
Sensorimotor
Tahap sensori motor terjadi pada usia
0-2 tahun. Piaget menjelaskan bahwa bayi berpikir dengan mata, telinga, tangan,
dan indera sensori lainnya. Anak usia 0-2 tahun hanya mengetahui sangat sedikit
mengenai dunia sehingga mereka tidak bisa mengeksplorasi dengan penuh makna.
Pada usia tersebut terjadi reaksi sirkuler. Reaksi tersebut memberikan sarana
bagi anak untuk proses adaptasi skema pertama anak. Reaksi sirkuler ditimbulkan
oleh aktivitas motorik bayi sendiri. Ketika bayi mendapat pengalaman baru maka
ia akan mengulang-ngulang hal tersebut. Reaksi sirkuler mulanya berawal dari
tubuh bayi sendiri, kemudian akan berkembang dan berkembang menjadi lebih luas.
Reaksi tersebut semakin lama akan bersifat eksperimental dan kreatif sehingga
akan menciptakan hasil baru.
Piaget beranggapan bahwa dalam perubahan
kognitif terjadi perubahan skema berpikir. Skema awal yaitu tidakan sensori
motor. Skema berikutnya akan lebih kreatif. Piaget menyatakan bahwa ada dua
proses dalam perubahan kognitif atau perubahan skema, yaitu: adaptasi (adaptation) dan organisasi (organization). Dalam proses adaptasi
terjadi interaksi langsung dengan lingkungan sehingga akan mengambangkan skema
pikir anak. Adaptasi sendiri terdiri dari dua kegiatan, yaitu asimilasi (assimilation) dan akomodasi (accomodation). Dalam kegiatan asimilasi,
anak mulai menafsirkan dunia luar dengan sensori motornya. Kemudian terjadi
kegiatan akomodasi yang menciptakan skema baru apabila cara berpikir anak
terhadap lingkungannya semakin luas.
Selain berubah melalui adaptasi skema juga berubah melalui organisasi. Dalam
proses organisasi, anak mulai membentuk skema baru dan mengatur kembali serta
menghibungkan dengan skema lain untuk menciptakan sistem kognitif yang saling
berhubungan.
b. Tahap
Pra-Operasional (Preoperational Stage)
Tahap pra-operasional berlangsung pada
usia 2 sampai 7 tahun. Pada tahap ini terjadi peningkatan luar biasa dalam
aktivitas representasi atau simbolis. Representasi berkaitan pada hubungan
antara bahasa dan pemikiran. Bahasa merupakan sarana yang fleksibel dari
representasi mental. Anak-anak mulai mengungkapkan apa yang ada di dalam
pikirannya. Dalam tahap ini anak juga mulai mengadakan aktivitas bermain.
Melalui kegiatan bermain anak belajar untuk mengembangkan imajinasi,
kreativitas, dan penalaran logis.
Kegiatan bermain anak pada usia ini
merupakan bermain simbolik. Anak menggunakan berbagai benda disekitarnya untuk
bermain simbolik. Anak-anak belajar memahami tentang benda-benda melalui
aktivitas simbolik tersebut. Anak yang berada pasa tahap pra-operasional ini
cenderung memiliki pemikiran yang egosentris, animistis, dan magis.
c. Teori
Operasional Konkret
Tahap operasional konkret (concrete operational stage) berlangsung
pada usia 7 hingga 11 tahun. Tahap tersebut memungkinkan anak untuk berpikiran
jauh dari sekedar logika. Anak-anak mampu memberikan alasan logis pada
informasi atau objek yang kongkret dan nyata.
d. Tahap
Operasional Formal (Formal Operational
Stage)
Selama tahap operasional formal, remaja
melakukan penalaran hipotesis-deduktif. Ketika berhadapan dengan masalah,
mereka akan membuat hipotesisnya kemudian menarik kesimpulan logis dan teruji
serta secara sistematis memilah dan menggabungkan variabel-variabel untuk
mengetahui kesimpulan mana yang benar.
Teori perkembangan kognitif Piaget menjelaskan
tentang anak beradaptasi dengan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian
sekitarnya. Anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek , seperti:
mainan, perabot di rumah, dan makanan.
Selain itu anak juga mempelajari objek-objek sosial, seperti: diri
sendiri, orang tua, dan teman.
Piaget memandang bahwa anak memainkan
peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif
menerima informasi. Walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi
oleh pengalamannya dengan dunia sekitarnya, namun anak juga berperan aktif
dalam menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman serta dalam
mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia
punyai (Hetherington & Parke, 1975).
Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak
berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah
kompleks. Tahap-tahap perkembangan menurut Piaget ini diringkas dalam tabel
berikut:
Tabel
2.4 Tahapan Perkembangan Kogniti Piaget
dalam Berk
|
Tahap
|
Usia/ Tahun
|
Gambaran
|
|
Sensorimotor
|
0-2
|
Bayi bergerak dari tindakan refleks
instrinsif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi
membangun suatu pemahan tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman
sensor dengan tindakan fisik.
|
|
Preoperational
|
2-7
|
Anak mulai merepresentasikan dunia
dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-kata dan gambar-gambar ini
menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi
sensor dan tindak fisik.
|
|
Concrete
operational
|
7-11
|
Pada saat ini anak dapat berpikir
secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang kongkret dan
mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
|
|
Formal
operational
|
11-15
|
Anak remaja berpikir dengan cara yang
lebih abstrak dan logis. Pemikiran lebih idealistik.
|
Menurut Piaget, perkembangan
masing-masing tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangkan tahap
sebelumnya. Piaget menyatakan setiap individu akan melewati serangkaian
perubahan kualitatif yang bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau
mundur. Perubahan-perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis
untuk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian
struktur berpikir.
Selain beberapa penjelasan di atas Solso dkk
juga mengemukakan dalam bukunya bahwa Piaget membuat suatu teori tentang empat
periode utama dalam perkembangan kognitif, yang menunjukkan perkembangan
intelektualitas manusia. Perubahan dalam satu periode yang sama umumnya
bersifat kuantitatif dan linear, sementara perbedaan antarperiode cenderung
bersifat kualitatif dan menunjukkan adanya rangkaian kemajuan dari periode yang
satu ke periode yang lain dalam keempat periode tersebut. Seorang anak harus melalui
suatu periode terlebih dahulu sebelum meningkat ke periode berikutnya.
Adapun ringkasan tahapan perkembangan kognitif
Piaget menurut Solso disajikan dalam tabel di bawah ini:
Tabel
2.5 Perkembangan Kognitif Piaget dalam Solso
|
Tahapan
|
Rentang Usia
|
Karakteristik
|
|
Sensori-motorik
|
0-2 tahun
|
- Dunianya
terbatas pada saat sekarang dan disini belum mengenal bahasa,
- belum
memiliki pikiran pada masa-masa awal,
- belum
mampu memahami realitas objektif.
|
|
Pra – Operasional
|
2-7 tahun
|
- Pikirannya
bersifat egosentris
- Pemikirannya
didominasi oleh persepsi
- Intuisinya
lebih mendominasi daripada pikiran logisnya
- Belum
memiliki kemampuan konservasi
|
|
Operasional konkret
|
7-11 tahun
|
- Kemampuan
konservasi
- Kemampuan
mengklasifikasikan dan menghubungkan
- Pemahaman
tentang angka
- Berpikir
konkret
- Perkembangan
pikiran tentang reversibilitas
|
|
Operasional formal
|
11 tahun keatas
|
- Pikiran
bersifat umum dan menyeluruh
- Berpikir
proposisional
- Kemampuan
membuat hipotesis
- Perkembangan
idealisme yang kuat.
|
Serta uraian tahapan
perkembangan kognitif menurut Piaget yang dijelaskan oleh Bukatko & Daehler
dalam tabel berikut :
Tabel 2.6 Piaget’s Stage of
Cognitive Development
|
Stage
|
Emerging
Cognitive Structure (Schemes)
|
Typical
Achievements and Behaviors
|
|
Sensorimotor
(Birth until 1,5 – 2 years
|
Sensory and motor actions, initially
reflexes, quickly differentiate by means of accomodation and coordinate to
form adaptive ways of acting on the environment
|
Infants suck, grasp, look, reach and
so forth, responses that become organized into complex activities such as
hand-eye coordination, knowledge of space and objects, and eventually
rudimentary symbols deigned to solve problems and understand the physical
world
|
|
Preoperational
(1.5 – 7 years)
|
Symbols stand for or represent object
and events, but communication and thought remain relatively inflexible
|
Children begin to acquire language and
mental representation, but thought remains unidimensional and oriented around
the self
|
|
Concrete
operational (7-11 years)
|
Cognitive operations permit logical
reasoning about concrete objects, events and relationship
|
Children are no longer fooled by
appeareance, and they can reason more systematically with respect to classes,
number, and other characteristic of their physical and social world
|
|
Formal
Operational (11 years and above)
|
Operations can be performed on
operation. Thought becomes abstract, and all possible outcomes can be
considered
|
Adoslence and adults are able to
reason about hyphotetical outcomes. Abstracts issues (e.g religion, morality,
alternative lifestyles) are systematically evaluated.
|
Dalam Bukatko & Daehler,
dijelaskan pula teori serta tema perkembangan Piaget. Ada beberapa poin penting
yang diuraikan di dalamnya, diantaranya :
a.
Sifat Dasar/Pengasuhan
Piaget menuliskan bahwa
sejumlah faktor dasar secara biologis memberikan kontribusi pada perkembagan
kognitif. Diantara nya adalah kedewasaan/kematangan, tahapan yang membuka
program genetik dalam perkembangan anak. Faktor lainnya adalah kecenderungan
lain yang melekat pada anak untuk bertindak, secara fisik maupun mental, di
dalam lingkungannya. Namun, dalam perkembangan Piaget sangat jelas merupakan
produk dari interaksi faktor-faktor ini dengan pengalaman yang diperoleh anak
b.
Pengaruh sosial
budaya
Bagi Piaget, anak
berkembang dengan cara yang sama di semua bagian dunia karena anak-anak
memiliki unsur biologis yang sama dan fisik serta sosial dunia samayang perlu
diadaptasi oleh manusia. Kesempatan budaya atau pendidikan, bagaimanapun juga,
bisa mempengaruhi kecepatan dan keunggulan tingkat pencapaian perkembangan
kognitif anak.
c.
Keberlanjutan/ketidakberlanjutan
Meskipun pengenalan
terus berubah, teori Piaget fokus pada cara skema menjalani re-organisasi dan
merubah pola khusus dalam perkembangan. Dalam tulisan dan percakapan
terakhirnya, Piaget mulai menerapkan pentingnya tahapan (Piaget, 1971;Vuyk,
1981). Dia percaya bahwa penekanan yang lebih di dalam tahapan ini memberikan
perhatian dengan menjelaskan periode stabilitas atau keseimbangan intelektual
ketika, pada kenyatannya, kesadaran selalu mengalami perkembangan. Perkembangan
kognitif, sama seperti spiral yang selalu berubah secara konstan, meskipun
kadang-kadang pada waktu yang cepat daripada waktu yang lain (Beillin, 1989)
d.
Perbedaan individu
Piaget tidak terlalu
fokus pada perbedaan individu dalam perkembangan anak. Tujuan dia adalah untuk
mengidentifikasi prinsip-prinsip yang diterapkan pada aspek perkembangan
kognitif anak dan aspek lainnya
e.
Interaksi diantara
domain
Teori Piaget telah
memberi implikasi pada berbagai domain perkembangan. Contohnya, ide nya
mengenai perkembangan kognitif yang telah digunakan untuk menjelaskan perubahan
dalam komunikasi, pemikiran moral, dan aspek sosial tentag bagaimana anak memahami pemikiran,
perhatian, perasaan, dan pandangan lainnya. Namun, Piaget telah memberikan
kritiknya dengan memberikan perhatian tentang bagaimana domain sosial dan
emosional mempengaruhi perkembangan kognitif
Pendapat mengenai bagaimana tahapan
perkembangan kognitif Piaget juga dikemukakan oleh Papalia. Dalam bukunya
Papalia menyatakan bahwa Piaget percaya semua anak melalui tahap-tahap yang
sama dalam urutan yang sama (meskipun waktunya bervariasi) maju dari yang
sederhana sensorik dan motorik belajar untuk logis, berpikir abstrak. Ini
adalah proses yang lambat dan bertahap di mana prestasi parsial membuka jalan
bagi lebih kompleks, yang komprehensif. Adapun masing-masing tahapannya
dijelaskan lebih lengkap di bawah ini:
a. Tahap
sensori motor
Dalam
tahap sensori motor, bayi mengenal objek-objek yang berada di lingkungannya
melalui sistem pengindraan (seperti penglihatan dan pendengaran) dan gerakan
motoriknya (refleks, seperti mengenyot
dan menggerakkan kepala ke arah sumber rangsangan). Meskipun ketika dilahirkan
seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat indranya
sudah bisa langsung berfungsi seperti gerakan mengenyot dan menhisap puting
susu ibunya.
Papalia
menyebutkan bahwa ada 6 subperiode dalam tahap sensori motor, subperiode
tersebut dijabarkan dalam tabel berikut :
Tabel 2.6
Subtingkatan tahapan sensorimotor dalam Papalia
|
Sub tingkatan
|
Usia bulan
|
Deskripsi
|
|
Modifikasi
(pelatihan refleks-refleks)
|
0-1
|
Masih terbatas
untuk melatih kemampuan refleks-refleks, seperti menghisap atau menghirup,
dan menggenggam. Berkembanganya persepsi egosentris, masih belum bisa
membedakan dirinya dengan objek-objek lain dan melakukan kegiatan refleks
|
|
Pengembangan
skema (reaksi pengulangan pertama = primary circular reactions)
|
1-4
|
Anak melakukan
kegiatan yang menyenangkan secara sirkular (berulang-ulang) dan bersifat
primer (berhubungan dengan tubuh), seperti mengenyot jempol secara
berulang-ulang karena menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan.
Refleks-refleks berkembang menjadi skema (pola gerakan yang diperoleh dari
lahir) adaptif. Skema mulai menjadi lebih halus dan terkoordinasi (seperti
koordinasi antara gerakan mulut dan tangan). Menunjukkan keingintahuannya.
|
|
Reaksi
pengulangan kedua (secondary circular reactions)
|
4-8
|
Tingkah
lakunya menjadi lebih berorientasi ke luar. Bayi mengembangkan minatnya atau
perhatiannya terhadap peristiwa atau lingkungan di sekitarnya. Bayi mulai
bisa memanipulasi objek-objek. Mulai mengimintasi dan menyusun persepsi
klasifikasi dan relasi. Mengulang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan seperti
mengulang-ulang atau menggerak-gerakkan mainan yang mengeluarkan bunyi yang
menarik. Mengembangakn koordinasi mata-tangan
|
|
Koordinasi
reaksi-reaksi (skema) sekunder atau mengembangkan tingkah laku intensional
|
8 – 12
|
Mulai
berkembangnya tingkah laku yang intensional (disengaja/bertujuan). Bayi mulai
dapat membuat cara untuk mencapai
tujuan (suatu yang diinginkan). Mengunakan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa
untuk menghadapi situasi baru
|
|
Reaksi
pengulangan ketiga (eksplorasi)
|
12-18
|
Bayi mulai
mengubah skema secara sistematik untuk menghasilkan efek-efek baru. Dapat
memecahkan masalah melalui trial dan error. Anak secara gradual belajar
tentang dampak kegiatannya terhadap lingkungannya. Dia mulai memahami
hubungan sebab akibat. Dia sudah menemukan cara memperlakukan suatu objek
agar menghasilkan sesuatu yang menarik (menyenangkan). Seperti pada tahap
keempat anak mulai menemukan kesenangan dengan menekan atau memijit mainan (misalnya mainan berbentuk bebek
dari karet) berkali-kali sehingga mengeluarkan suara bebek yang menyenangkan
dirinya. Pada tahap kelima ini, anak dapat menemukan cara baru untuk
memperoleh tujuan yang sama, seperti dengan cara menginjaknya atau meninjunya
dengan kepalan tangan. Tahap ini merupakan skema trial & error
|
|
Permulaan
berpikir (representasi mental)
|
18-24
|
Mulai
mengembangkan kemampuan untuk memahami fungsi-fungsi simbolik atau
representasi mental. Sebagai prestasi puncak tahap sensori motor adalah
kemampuan menginternalisasikan skema-skema tingkah laku untuk mebentuk
simbil-simbil mental atau imajinasi. Pada tahak keenam ini anak sudah bisa
bereksperimen secara mental dan memiliki “insight” untuk memecahkan suatu
masalah
|
b. Tahap
praoperasional
Periode
perkembangan kognitif praoperasional terjadi dalam diri anak ketika umur 2
sampai 7 tahun. Perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki
penguasaan sempurna mengenai objects permanence. Artinya, anak tersebut telah
memiliki kesadaran akan ‘tetap eksisnya’ suatu benda yang harus ada atau biasa
ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tidak diihat dan
tidak didengar lagi. Jadi, tahap praoperasional ini berbeda dengan tahap
sensori motor yang hanya mengandalkan pada pengamatan.Apakah yang mendasari
munculnya kemampuan abstrak ini ?
Perolehan
kemampuan berupa kesadaran terhadap eksistensi object permanence (ketetapan adaya benda) adalah hasil dari
munculnya kapasitas kognitif baru yang disebut representatition atau mental
representation (gambaran mental). Secara singkat, representasi adalah sesuatu
yang mewakili atau menajdi simbol sesuatu yang lainnya. Representasi mental
merupakan bagian penting dari skema kognitif yang memungkinkan anak berpikir
dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda
atau kejadian itu di luar pandangan, pendengaran ataupun jangkauan tangannya.
Representasi
mental juga memungkinkan anak untuk megembangkan deferred-imitation (peniruan yang tertunda) yakni kapasitas meniru
perilaku orang lain yang sebelumnya pernah ia lihat untuk memproses lingkungan.
Perilaku-perilaku yang ditiru terutama perilaku-perilaku orang lain (khususnya
orang tua dan guru) yang pernah ia lihat ketika orang itu merespon barang,
orang, keadaan dan kejadian yang dihadapi pada masa lampau.
Seiring
dengan munculnya kapasitas deferred-imitation,
muncul pula gejala insight-learning
yakni gejala belajar berdasarkan tilikan akal. Dalam hal ini, anak mulai mampu
melihat situasi problematik yakni memahami bahwa sebuah keadaan mengandung
masalah, lalu berpikir sesaat. Seusai berpikir, ia memeroleh reaksi ‘aha’ yaitu
pemahaman atau ilham spontan untuk memecahkan masalah versi anak-anak. Dengan
reaksi ‘aha’ kemudian masalah tadi ia pecahkan.
Dalam
periode perkembangan praoperasional, penggunaan skema kognitif anak masih
berbatas. Hal ini bisa terlihat dalam hal pengamatan dan pemahaman anak
terhadap situasi lingkungan yang ia tanggapi sangat dipengaruhi oleh watak
egosentrisme. Maksudnya anak belum bisa memahami pandangan-pandangan orang lain
yang berbeda dengan pandangan sendiri. Gejala egosentrisme ini disebabkan oleh
masih terbatasnya conservation
(konservasi/pengekalan), yakni operasi kognitif yang berhubungan dengan
pemahaman anak terhadap aspek dan dimensi kuantitatif materi lingkungan yang ia
respon.
Mengenai
hal di atas bisa dicontohkan sebagai berikut. Apabila dua buah gelas yang
berkapasitas sama tetapi berbeda bentuk (yang satu pendek besar, sedangkan
lainnya kecil tinggi) dituangi air dengan jumlah yang sama. Maka anak akan
cenderung menebak isi gelas yang tinggi itu lebih banyak dari pada isi gelas
yang pendek. Gejala ini menunjukkan bahwa anak tersebut hanya mampu
mengkonsentrasikan skema kognitifnya pada ketinggian bentuk air dalam gelas
yang tinggi tersebut tanpa memperhitungkan kuantitas atau volume yang sama
dalam gelas yang pendek tapi besar itu. Inilah yang dimaksud dengan
keterbatasan konservasi sebagaimana tersebut di atas.
Tabel 2.7
Cognitive advance during early childhood
|
Advance
|
Significance
|
|
Use
of symbols
|
Children
do not need to be in sensorimotor contact with an object, person, animal or
event in order to think about it.
Children
can imagine that objects or people have properties other than those they
actually have
|
|
Understanding
of identities
|
Children
are aware that superficial alterations do not change the nature of things
|
|
Understanding
of cause and effect
|
Children
realize that events have causes
|
|
Ability
to classify
|
Children
organize objects and events into meaningful categories
|
|
Theory
of minds
|
Children
become more aware of mental activity and the functioning of the mind
|
c. Tahap
operasional konkrit
Berakhirnya
tahap perkembangan praoperasional bukan berarti berakhir pula tahap berpikir
intuitif yakni berpikir dengan mengandalkan ilham. Piaget menjelaskan bahwa
tidak sedikit pemikiran orang dewasa yang juga menggunakan intuisi seperti
pemikiran praoperasional anak-anak. Contohnya, saat orang dewasa sedang
berangan-angan (daydreaming). Namun
dalam hal ini terdapat perbedaan yakni orang dewasa dapat berpikir, mengubah
maju dan mundurdari intelegensi intuitif (kecerdasan ilhami) ke intelegensi
operasional (kecerdasan akli), sedangkan anak-anak belum mampu melakukannya.
Dalam
periode operasional konkrit yang berlangsung hingga usia menjelang remaja, anak
memeroleh tambahan kemampuan yang disebut system
of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir
ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan
peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.
Satuan
langkah berpikir anak terdiri atas aneka ragam opration (tatanan langkah) yang
masing-masing berfungsi sebagai skema kognitif khusus yang merupakan perbuatan
intern yang tertutup (interiorized action)
yang dapat dibolak-balik atau ditukar dengan operasi-operasi lainnya.
Satuan
langkah berpikir anak kelak akan menjadi dasar terbentuknya intelegensi
intuitif. Dalam hal ini, piaget menjelaskan bahwa intelegensi yang dimaksud
bukan sifat yang biasanya digambarkan dengan skor IQ, melainkan proses atau
langkah operasional tertentu yang mnedasari semua pemikiran dan pengetahuan
manusia, di samping merupakan proses pembentukan pemahaman.
Dalam
intelegensi operasional anak yang sedang berada pada tahap operasional konkret
terdapat sistem operasi kognitif yang meliputi :
1. Conservation
(konservasi/pengekalan)
Kemampuan
anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi seperti volume dan jumlah.
Anak yang mampu mengenali sifat kuantitaif benda tersebut tidak akan berubah
secara sembarangan. Jumlah cairan dalam sebuah bejana tidak akan berubah meski
dituangkan ke dalam bejana lainnya yang lebih besar atau lebih kecil.
2. Addition of classes
(penambahan golongan benda)
Kemampuan
anak dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap
berkelas lebih rendah seperti mawar, melati dan menghubungkannya dengan
golongan benda yang berkelas lebih tinggi seperti bunga. Demikian juga
sebaliknya.
3. Multiplication of
classes (pelipatgandaan golongan benda)
Kemampuan
yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda
(seperti warna bunga dan tipe bunga) untuk membentuk gabungan golongan benda
(seperti mawar merah, mawar putih). Selain itu, kemampuan ini juga meliputi
kemampuan memahami cara sebaliknya, yakni cara memisahkan gabungan golongan
benda menjadi dimensi-dimensi tersendiri misalnya bunga mawar terdiri atas
merah, putih dan kuning.
Piaget menyimpulkan bahwa ciri khas
perkembangan kognitif anak berusia 7 – 11 tahun diantaranya pemahaman terhadap
aspek kuantitatif materi, pemahaman terhadap penambahan golongan benda, dan
pemahaman terhadap pelipatgandaan
golongan benda. Perolehan pemahaman tersebut diiringi dengan berkurangnya
egosentrisme anak. Artinya, anak sudah mulai memiliki kemampuan mengkoordinasikan
pandangan-pandangan orang lain dengan pandangannya sendiri dan memiliki
persepsi positif bahwa padangannya hanyalah satu dari sekian banyak pandangan
orang.
Menurut Piaget, anak-anak dalam tahap
operasional konkrit kurang egosentris dari sebelumnya, dapat berpikir logis,
dan lebih mahir berpikir spasial, membuat penilaian mengenai sebab dan akibat,
kategorisasi, induktif dan penalaran deduktif dan konservasi.
Bertentangan dengan kepercayaan asli
Piaget, baik pematangan neurologis dan pengalaman budaya tampaknya
berkontribusi pada pengembangan keterampilan seperti konservasi seperti yang
dikutip oleh Papalia berikut :
According
to piaget, children in the stage of concrete operational are less egocentric
than before, can think logically, and are more proficient at spatial thinking,
making judgements about cause and effect, categorization, inductive and
deductive reasoning and conservation.
Contrary
to piaget's original belief, both neurological maturation and cultural
experience seem to contribute to the development of such skills as conservation
d. Tahap
operasional formal
Dalam
perkembangan kognitif tahap akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan
mengkoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam kemampuan
kognitif yakni 1) kapasitas menggunakan hipotesis 2) kapasitas menggunakan
prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis, seorang remaja
akan mampu berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah
dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia
respon. Sementara itu, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak,
remaja akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak seperti ilmu
agama, ilmu matematika, dan ilmu abstrak lainnya.
Dua
macam kapasitas kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualitas skema
kognitif itu tentu telah dimiliki pula oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya,
seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan
formal-operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa.
Selanjutnya,
serang remaja yang berhasil menjalani tahap perkembangan operasional formal
akan dapat memahami dan mengungkapkan prinsip-prinsip abstrak. Prinsip-prinsip
tersembunyi ini, pada gilirannya akan dapat mengubah perhatian-perhatian
sehari-hari secara dramatis dengan pola yang terkadang sama sekali berbeda
dengan pola-pola perhatian sebelumnya. Dia mungkin menjadi asyik dengan konsep
abstrak-abstrak tertentu seperti etika ideal, keserasian, keadilan, kemurnian
dan masa depan.
Berdasarkan beberapa penjelasan yang telah
dinyatakan oleh para ahli pada masing-masing karyanya mengenai teori
perkembangan kognitif Piaget, dapat disimpulkan bahwa masing-masing para ahli
membagi perkembangan kognitif Piaget dalam 4 tahapan yang dilalui semasa
hidupnya. Adapun kesimpulan hasil analisa dari beberapa pendapat para ahli di
atas dapat dinyatakan berikut ini:
a. Tahapan
Sensorimotor
b. Tahapan
Pra Operasional
c. Tahapan
Operasional Konkret
d. Tahapan
Operasional Formal
Selain itu, dalam masing-masing tahapan terdapat
beberapa ahli yang membahas secara detail masing-masing tahapan sampai pada sub
tahap pada setiap tahapan, serta faktor-faktor yang menjadi fokus utama pada
setiap tahapan tersebut.
Seperti yang terdapat dalam tahapan sensorimotor
yang dibagi lagi menjadi 6 sub tahap, serta pada tahapan pra operasional yang
dibagi lagi menjadi 2 sub tahap, serta tahapan lain yang dijelaskan lebih
spesifik bagaimana perkembangan yang terjadi.
2.
Teori
Perkembangan Kognitif Vygotsky
Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak
secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Meskipun demikian, Vygotsky memberi
fokus lebih besar terhadap pentingnya interaksi sosial dan budaya terhadap
perkembangan kognitif. Teori Vygotsky adalah teori kognisi sosiobudaya yang
berfokus pada bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan
kognitif.
Vygotsky
melukiskan perkembangan anak sebagai aspek yang tidak terpisahkan dari
aktivitas sosial dan budaya. Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi,
dan penalaran mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari
masyarakat, seperti bahasa, system matematika, dan strategi memori. Dengan
demikian dalam suatu budaya anak-anak dapat belajar berhitung dengan bantuan
komputer, di budaya lainnya mereka dapat belajar berhitung dengan menggunakan
manik-manik. Menurut Vygotsky, interaksi anak-anak dengan orang dewasa yang
lebih terampil dan kawan-kawan sebaya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
kognitif mereka. Melalui interaksi ini, mereka belajar menggunakan perangkat
yang dapat membantu mereka untuk beradaptasi dan berhasil di dalam budayanya.
Sejalan dengan pendapat di atas Berk
juga mengungkapkan bahwa teori sosiokultural Vygotsky cenderung menekankan
bahwa anak-anak hidup dalam konteks sosial dan budaya yang relatif kaya dan
dapat mempengaruhi dunia kognitif anak. Aktivitas mental anak berasal dari
interaksi sosial anak baik dengan masyarakat sekitar atau pun orang dewasa
lainnya.
Vygotsky memberikan pandangan berbeda
dengan Piaget terutama pandangannya tentang pentingnya faktor sosial dalam
perkembangan anak. Vygotsky memandang pentingnya bahasa dan orang lain dalam
dunia anak-anak. Meskipun Vygotsky dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan
kepada perkembangan sosial yang disebut sebagai sosiokultural, dia tidak
mengabaikan individu atau perkembangan kognitif individu. Hal itu didukung oleh
pendapat Laura yang menyatakan “In
Vygotsky’s sociocultural theory, language development broadens preschoolers’
participation in dialogues with more knowledgeable individuals, who encourage
them to master culturally important tasks. These social experiences transform
basic mental capacities intoo uniquely human, higher cognitive processes”.
Perkembangan bahasa pertama anak tahun
kedua di dalam hidupnya dipercaya sebagai pendorong terjadinya pergeseran dalam
perkembangan kognitifnya. Bahasa memberi anak sebuah alat baru sehingga memberi
kesempatan baru kepada anak untuk melakukan berbagai hal, untuk menata
informasi dengan menggunakan simbol-simbol.
Anak-anak sering terlihat berbicara
sendiri dan mengatur dirinya sendiri ketika ia berbuat sesuatu atau bermain.
Ini disebut sebagai private speech. Ketika anak menjadi semakin besar,
bicaranya semakin lirih, dan mulai membedakan mana kegiatan bicara yang
ditujukan ke orang lain dan mana yang ke dirinya sendiri.
Dengan pertolongan orang dewasa, anak
dapat melakukan dan memahami lebih banyak hal dibandingkan dengan jika anak
hanya belajar sendiri. Konsep inilah yang disebut Vygotsky sebagai Zone of Proximal Development (ZPD).
Menurut Vygotsky, pertama-tama anak
melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial dengan orang lain dan bahasa
membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun, anak semakin menjauhkan diri
dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan menuju kemandirian bertindak dan
berpikir.
a. Zona
Perkembangan Proksimal (Zone Proximal
Development/ ZPD)
Karya
Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama. Pertama, perkembangan intelektual
dapat dipahami hanya berdasar konteks historis dan budaya yang dialami
anak-anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem tanda yang ada bersama masing-masing orang ketika mereka
bertumbuh, yaitu simbol-simbol yang diciptakan budaya untuk membantu rang
berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.
Berbeda
dengan Piaget, Vygotsky berpendapat bahwa pembelajaran mendahului perkembangan.
Baginya, pembelajaran diperoleh melalui pengajaran dan informasi dari orang
lain, sehingga mampu berpikir dan memcahkan masalah tanpa bantuan orang lain.
Kemampuan ini disebut pengaturan diri
(self-regulation). Vygotsky
(2007:264) berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep yang lebih
sistematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan sesorang
yang dianggap lebih ahli dalam hal tertentu. Selain itu anak-anak menyerap
percakapan orang lain dan kemudian mengunakan percakapan itu untuk membantu
diri sendiri memecahkan masalah, mekanisme inilah yang disebut dengan percakapan pribadi (private speech). Pembicaraan anak-anak
pada diri sendiri yang menuntun pemikiran dan tindakan mereka, dan kemudian
berlangsung tanpa suara (percakapan batin).
Konsep Vygotsky(2011:60) didasarkan pada gagasan bahwa
perkembangan ditentukan oleh apa yang dapat dilakukan seorang anak secara
mandiri dan oleh apa yang dapat dilakukan anak itu ketika dibantu oleh orang
dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten (John-Steiner & Mahn, 2003).
Keyakinan
Vygotsky mengenai pentingnya pengaruh-pengaruh sosial khususnya intruksi dalam
perkembangan kognitif anak-anak tercermin di dalam konsepnya yaitu zona
perkembangan proksimal. Zona Perkembangan Proksimal (Zone Proximal Development/ ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk
rentang tugas-tugas yang terlalu sulit bagi anak untuk dikuasai sendiri namun
dapat dipelajari melalui bimbingan dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak
yang lebih terampil. Jadi, batas bawah dari ZPD adalah level keterampilan yang
mampu diraih anak dengan bekerja sendiri. Sementara batas atas dari ZPD adalah
level dari tanggung jawab tambahan yang dapat diterima anak dengan dibantu oleh
instruktur yang mampu. ZPD menangkap keterampilan kognitif anak yang berada di
dalam proses pematangan dan dapat dicapai hanya melalui bantuan dari orang yang
lebih terampil.
Vygotsky
juga meyakini bahwa bayi menguasai tugas-tugas dalam zona perkembangan
proksimal (the zone of proximal
development). Zona perkembangan
proksimal (the zone of proximal
development) mengacu pada tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan oleh anak
sendiri melainkan dengan bantuan dukungan dan arahan rekan-rekan yang lebih
terampil. Pada tahun pertama, variasi budaya dalam pengalaman sosial
mempengaruhi strategi-strategi mental.
Menurut
teori Vygotsky, Zona perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau
kerjasama dengan teman sebaya. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada
interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak.
Meskipun
pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui
pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang
jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan
pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.
Pada
satu sisi, Piaget menjelaskan proses perkembangan kognitif sejalan dengan
kemajuan anak-anak, dan dia menggambarkan bahwa anak-anak mampu melakukan
sesuatu sendiri. Pada sisi lain, Vygotsky mencari pengertian bagaiman anak-anak
berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum
matang, tetapi masih dalam proses pematangan.
Oleh
karena itu, Vigostsky mengajukan teori yang dikenal dengan istilah Zone of Proximal Development (ZPD) yang
merupakan dimensi sosio-kultural yang penting sebagai dimensi psikologis. ZPD
adalah jarak antara tingkat perkembangan actual
dengan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan yang dimaksud
terdiri atas empat tahap.
Pertama,
more dependence to others stage,
yakni tahapan di mana kinerja anak mendapat banyak bantuan dari pihak lain
seperti teman-teman sebayanya, orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan
lain-lain. Dari sinilah muncul model pembelajaran kooperatif atau kolaboratif
dalam mengembangkan kognisi anak secara konstruktif.
Kedua,
less dependence external assistence stage,
di mana kinerja anak tidak lagi terlalu banyak mengharapkan bantuan dari pihak
lain, tetapi lebih kepada self assistance,
lebih banyak anak membantu dirinya sendiri.
Ketiga,
Internalization and automatization stage,
di mana kinerja anak sudah lebih terinternalisasi secara otomatis. Kasadaran
akan pentingnya pengembangan diri dapat muncul dengan sendirinya tanpa paksaan
dan arahan yang lebih besar dari pihak lain. Walaupun demikian, anak pada tahap
ini belum mencapai kematangan yang sesungguhnya dan masih mencari identitas
diri dalam upaya mencapai kapasitas diri yang matang.
Keempat,
De-automatization stage, di mana
kinerjan anak mampu mengeluarkan perasaan dari kalbu, jiwa, dan emosinya yang
dilakukan secara berulang-ulang, bolak-balik, recursion. Pada tahap ini, keluarlah apa yang disebut dengan de
automatisation sebagai puncak dari kinerja sesungguhnya.
Untuk
mendeskripsikan bagaimana anak berkembang dari tahap kapasitasnya mulai
berfungsi hingga masa perkembangan lanjutan, dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar
2.7 : Tahapan Perkembangan
Berikut
ini terdapat sebuah contoh yang menunjukkan Zona Perkembangan Proksimal.
Seorang anak berusia 5 tahun mendorong
kereta belanja melalui area rumah pra sekolahnya. Gurunya memperhatikan anak
itu meletakkan buah di keranjang kecil dan bahan-bahan makanan lain di bagian
yang lebih besar dari keretanya. Guru itu memperhatikan anak tersebut
memisahkan benda-benda sejak beberapa minggu sebelumnya dan ia berpikir anak
tersebut mungkin mampu mengklasifikasikan dua kategori pada saat yang
bersamaan, dengan bantuannya. Ia berjalan menuju meja kasir dan berpura-pura
menjadi kasir, lalu ia berkata. “ kita harus hati-hati memisahkan bahan-bahan
makananmu ke dalam tas. Kita gunakan satu tas untuk barang-barang yang
dimasukkan ke dalam kulkas dan tas lain untuk barang-barang yang masuk dalam
almari. Mereka bersama-sama memikirkan ‘sistem satu tas’ untuk tiap-tiap
barang: makanan-makanan dalam dos yang harus disimpan di kulkas, sayuran dan
buah-buahan yang masuk ke kulkas, makanan-makanan dalam dos yang harus disimpan
dalam almari.
Pada
contoh di atas kemampuan anak membuat klasifikasi masih kasar pada buah dan non
buah. Dengan bantuan guru, anak tersebut dapat menerapkan pola klasifikasi yang
lebih tinggi.
b.
Scaffolding
Konsep
yang berkaitan erat dengan gagasan mengenai ZPD adalah konsep mengenai scaffolding. Scaffolding merupakan
istilah terkait kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan
perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil
mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak. Hal tersebut terjadi ketika
orang yang terampil atau orang dewasa mengarahkan anak, maka anak akan
melibatkan diri dalam interaksi dan mengambil strategi mental hingga kelamaan
kompetensi anak akan semakin meningkat. Sementara itu orang dewasa kemudian
menarik diri dan membiasakan anak mengambil tanggung jawab dalam tugas
tersebut. Bentuk pengajaran yang demikian disebut scaffolding yaitu dengan memberi pijakan melalui dorongan
pembelajaran di segala usia.
Hal di atas sesuai dengan apa yang
dikemukakan oleh Santrock bahwa scaffolding
berarti mengubah level dukungan. Sepanjang sesi pengajaran, seseorang yang
lebih terampil (guru atau kawan yang lebih pandai) dapat menyesuaikan besarnya
bimbingan yang diberikan, dengan prestasi. Ketika siswa mempelajari sebuah
tugas baru, orang yang terampil dapat menggunakan instruksi langsung. Seiring
dengan meningkatnya kompetensi siswa, bimbingan yang diberikan dapat dikurangi.
c. Bahasa
dan Pikiran
Dialog
adalah alat penting dalam zona perkembangan proksimal. Vygotsky memandang
anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak dan spontan. Dalam suatu
dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dapat dipertemukan dengan
bimbingan yang sistematis, logis, dan rasional. Contohnya, suatu dialog antara
guru dan anak akan menolong anak memahami suatu konsep seperti “transportasi”.
Penggunaan
dialog sebagai alat scaffolding dalam
ZPD hanyalah salah satu contoh peran penting bahasa dalam perkembangan anak.
Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi
sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh
Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan,
membimbing dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahasa untuk kemandirian
pribadi disebut kemampuan private speech.
Bagi Piaget, kemampuan tersebut bersifat egosentris dan tidak matang,
tetapi bagi Vygotksy hal tersebut adalah alat yang penting bagi pikiran selama
tahun tahun awal masa anak.
Vygotsky
menyatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan
kemudian menyatu. Ia menekankan bahwa semua fungsi mental memiliki sumber
eksternal atau sosial. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan
orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka
sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa
untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan
bicara eksternal menjadi internal. Masa transisi ini terjadi pada usia 3 sampai 7 tahun dan meliputi berbicara dengan
dirinya sendiri. Setelah beberapa waktu, berbicara pada diri sendiri menjadi
hal yang alami bagi anak, dan mereka mampu bertindak tanpa melakukan aktivitas
verbal. Ketika hal ini terjadi, anak telah menginternalisasikan pembicaraan
egosentris mereka dalam bentuk inner
speech, yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka.
Vygotsky
percaya bahwa anak yang kerap menggunakan private
speech akan lebih kompeten secara sosial dibandingkan mereka yang tidak. Ia
berpendapat bahwa private speech menunjukkan transisi awal untuk menjadi komunikatif
secara sosial. Bagi Vygotsky,
ketika anak bicara pada diri sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk menata
perilaku dan membimbing mereka. Contohnya, seorang anak yang sedang bermain
puzzle mungkin bicara pada dirinya sendiri, “ bagian mana ya yang harus
kupasang lebih dulu? Aku coba yang warna hijau ah. Lalu aku perlu yang warna biru.
Oh tidak, yang warna biru tidak cocok disini, aku akan coba di bagian lain.
Hal
tersebut menjelaskan bahwa bahasa dapat membantu anak-anak memikirkan aktivitas
mental dan perilaku mereka. Vygotsky menganggapnya sebagai landasan bagi semua
proses kognitif yang lebih tinggi. Proses tersebut mencakup atensi terkendali,
hafalan, dan ingatan disengaja, kategorisasi, perencanaan, pemecahan masalah,
dan refleksi diri. Ketika anak-anak berbicara pada dirinya sendiri, tanpa sadar
hal itu merupakan arahan bagi dirinya untuk bertindak. Lama kelamaan ujaran
pribadi atau bicara pada dirinya sendiri akan berubah menjadi percakapan batin
atau bisikan dan gerak tanpa suara. Apabila kelak anak-anak diberi tugas-tugas
yang sulit, maka akan terinternalisasi pada diri mereka untuk berpikir dengan
melakukan percakapan batin yang akan menuntunnya dalam bertindak pada situasi
sehari-hari.
Piaget
yakin bahwa berbicara pada diri sendiri merupakan sifat egosentris dan
menunjukkan ketidakdewasaan. Akan tetapi, para peneliti menemukan bukti bahwa
pandangan Vygotsky mengenai private
speech memainkan peran positif dalam perkembangan anak. para peneliti
menemukan bahwa anak-anak menggunakan private
speech lebih sering jika tugas yang mereka hadapi lebih sulit, rentan
kesalahan, dan ketika mereka tidak yakin bagaimana harus memulai. Para peneliti
juga menyatakan bahwa anak-anak yang melakukan private speech lebih penuh perhatian dan kinerjanya lebih baik
disbanding anak-anak yang tidak melakukan private
speech.
3.
Teori
Pemrosesan Informasi
Dalam proses-proses kognitif, hal yang
terpenting adalah persepsi, seleksi perhatian, memori, dan strategi kognitif.
Memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk belajar
dari individu melibatkan memori. Dengan memori, individu dimungkinkan untuk
dapat menyimpan informasi yang ia terima sepanjang waktu. Tanpa memori individu
mustahil dalam merefleksikan dirinya sendiri, karena pemahaman diri sangat
tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan yang hanya terlaksana
dengan adanya memori. Memori diperoleh melalui pemrosesan informasi.
Teori pemrosesan informasi mengedepankan
bahwa individu memanipulasi, memonitor, dan menyusun strategi, terhadap
informasi-informasi yang ditemuinya. Teori pemrosesan informasi tidak
mendeskripsikan perkembangan dalam bentuk tahapan. Menurut teori ini individu
secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi, sehingga
memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang
kompleks.
Teori pemrosesan informasi (information-processing theory)
didasarkan atas tiga asumsi umum, pertama,
pikiran dipandang sebagai suatu sistem penyimpanan dan pengambilan informasi. Kedua, individu-individu memproses
informasi dari lingkungan, dan ketiga,
terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang
individu.
Teori pemrosesan informasi lebih menekankan pada cara individu memproses
informasi tentang dunia mereka, cara informasi masuk ke pikiran, cara informasi
disimpan dan disebarkan, serta cara informasi diambil kembali untuk
melaksanakan aktivitas-aktivitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan
berpikir.
Robert Siegler, seorang ahli terkemuka
di bidang pemrosesan informasi anak-anak, menyatakan bahwa kegiatan berpikir
merupakan suatu bentuk pemrosesan informasi. Dengan kalimat, ketika individu
menangkap, menuliskan sandi, menampilkan, menyimpan dan mengeluarkan kembali
informasi maka mereka sedang berpikir. Siegler mengedepankan bahwa aspek
penting dari perkembangan adalah pembelajaran mengenai strategi-strategi yang
baik untuk memproses informasi.
Model pemrosesan informasi mempunyai
beberapa komponen utama: stimulus lingkungan atau (input), sensory register
(SR), short-term memory (STM), long-term memory (LTM), dan respon (output). Menurut model ini, ketika
seseorang mencoba memecahkan suatu masalah, pada awalnya ia memperoleh
informasi dari lingkungan melalui inderanya. Informasi yang diperoleh, kemudian
disimpan sementara dalam sensory register
(SR), memori penyimpan pertama. Sensory
register merekam informasi secara seksama sebagaimanayang diterima semula,
namun informasi ini akan menghilang atau tidak muncul dalam dua bagian kecil,
kecuali seseorang memprosesnya kemudian.
Informasi yang mendapat perhatian khusus
dari seseorang ditransfer ke short-term
memory (STM), memori penyimpanan kedua. Short-term
memory hanya dapat menyimpan informasi dalam jumlah yang terbatas, hanya
sekitar 7 buah informasi pada satu waktu. Kemudian setelah salah satu informasi
dilupakan atau diproses lebih lanjut, maka ia bergerak ke long-term memory (LTM), memori penyimpan ketiga. Dalam long-term memory ini informasi dapat
disimpan secara lebih permanen. Akan tetapi dalam penyimpanan ini diperlukan
berbagai strategi kognitif, seperti melatih informasi secara berulang-ulang
atau mengorganisirnya dalam kelompok-kelompok yang dikenal. Tidak seperti short-term memory, long-term memory
memiliki kapasitas yang tidak terbatas untuk menyimpan informasi baru.
Selain penyimpanan memori, dalam
pemrosesan informasi juga melibatkan atensi. Atensi merupakan kegiatan
memfokuskan sumberdaya mental terhadap informasi tertentu. Kemampuan anak untuk
memberikan perhatian meningkat secara signifikan selama masa prasekolah. Anak
kecil yang baru belajar berjalan, berkeliling di sekitarnya, mengalihkan
perhatian dari aktivitas yang satu ke aktiviitas yang lainnya, dan tampak bahwa
perhatiannya pada objek atau peristiwa apapun hanya berlangsung sebentar.
Sebagai perbandingan, anak prasekolah mungkin terlihat sedang menonton TV
selama setengah jam. Meskipun demikian, paling tidak kendali atensi anak-anak
prasekolah masih kurang dalam dua hal:
Dimensi yang menonjol versus dimensi
yang relevan. Anak-anak prasekolah cenderung menaruh perhatian pada stimuli
yang menonjol atau mencolok, meskipun stimuli tersebut tidak relevan untuk
memecahkan masalah atau menjalankan sebuah tugas. Sebagai contoh, jika seorang
badut yang mencolok memberikan pengarahan kepada anak-anak dalam memecahkan
masalah, anak-anak prasekolah cenderung lebih menaruh perhatian pada badut
tersebut dibandingkan pada pengarahan yang diberikannya. Setelah usia 6 atau 7
tahun, anak-anak dapat memperhatikan dimensi-dimensi tugas yang relevan secara
lebih evisien, seperti dapat mengikuti pengarahan dalam memecahkan masalah.
Perubahan ini mencerminkan suatu peralihan menuju kendali yang bersifat
kognitif untuk memberikan atensi; dalam kondisi ini anak-anak menjadi kurang
impulsive dan melakukan refleksi lebih banyak.
Santrock berpendapat bahwa bayi sejak
awal mempunyai kemampuan mengingat. Pengalaman seorang bayi berusia 6 bulan
ternyata masih dapat diingatnya hingga 2 tahun kemudian.
Anak usia prasekolah telah dapat memberikan reaksi verbal sehingga dapat lebih
mudah diukur memorinya dibanding dengan usia bayi.
Setelah anak usia 7 tahun tidak terlihat
peningkatan yang berarti. Cara mereka memproses informasi menunjukkan
keterbatasan-keterbatasan dibandingkan dengan prang dewasa. Berbeda dengan
memory jangka panjang yang terlihat peningkatan seirng dengan penambahan usia
selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Hal ini karena memori jangka
panjang sangat tergantung pada kegiatan-kegiatan belajar individu ketika
mempelajari dan mengingat sesuatu.
Faktor lain yaitu perencanaan. Ketika
pelaku eksperimen meminta anak-anak untuk menilai apakah kedua gambar yang
kompleks itu sama atau tidak, anak-anak prasekolah cenderung melakukan
perbandingan dengan menggunakan strategi yang serampangan, tidak menelaah semua
detail sebelum membuat penilaian. Sebagai perbandingan, anak-anak usia dasar
cenderung leboh melakukan pembandingan secara sistematis terhadap detail-detail
di berbagai gambar, satuu persatu.
Strategi dan pemecahan masalah juga
penting dalam teori ini. Teori pemrosesan informasi menekankan pentingnya
menggunakan strategi-strategi yang baik. Strategi terdiri dari aktivitas mental
yang dilakukan secara sengaja untuk meningkatkan pemrosesan informasi. Sebagai
contoh anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa biasanya menggunakan strategi
mengulang-ulang informasi dan mengorganisasikannya agar dapat mengingat secara
efektif. Sementara itu, sebagian besar anak-anak kecil tidak menggunakan kedua
strategi ini untuk mengingat.
C.
IMPLEMENTASI
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF DALAM PENDIDIKAN
1.
Implementasi
Teori Perkembangan Kognitif Piaget
dalam Pendidikan
Piaget bukan seorang pendidik, namun ia
memberikan landasan konseptual yang sehat bagi dunia pendidikan. Berikut
beberapa pemikiran Piaget yang dapat diterapkan untuk mendidik anak:
a. Gunakan
pendekatan konstruktif
Piaget
menekankan bahwa anak-anak belajar dengan baik ketika mereka aktif dan mencari
solusi secara mandiri. Piaget melawan metode-metode pengajaran yang
memperlakukan anak sebagai penerima yang pasif. Implikasi pendidikan dari
pandangan Piaget adalah bahwa dalam semua pelajaran, semua murid akan belajar
baik dengan melakukan eksperimen, dan berdiskusi, ketimbang hanya membabi buta
menirukan guru atau melakukan sesuatu secara hafalan.
b. Melakukan
pembelajaran fasilitatif seperti pembelajaran langsung
Guru-guru yang
efektif mendesain situasi-situasi yang membiarkan murid-muridnya belajar sambil
bertindak. Situasi-situasi sepeti ini mengembangkan penalaran dan kreativitas
murid. Guru mendengar, memperhatikan, dan memberi pertanyaan pada murid, untuk
membantu mereka meraih pemahaman yang lebih baik. Jangan hanya menilai apa yang
dipikirkan para murid dan hasilnya. Lebih baik, secara teliti amatilah mereka
dan pahami bagaimana mereka berpikir. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan yang
relevan untuk merangsang pemikiran mereka, dan mintalah mereka menjelaskan
jawaban mereka.
c. Pertimbangkan
pengetahuan anak dan tingkat pemikiran mereka
Murid tidak
datang ke kelas dengan pikiran yang kosong. Mereka memiliki banyak pemahaman
tentang dunia fisik dan alam. Mereka memiliki konsep-konsep tentang ruang,
waktu, kuantitas, dan sebab-akibat. Pemahaman ini berbeda dengan
pemahaman-pemahaman orang dewasa. Guru perlu menerjemahkan apa yang dikatakan
seorang murid dan meresponnya secara yang tidak terlampaui jauh dari tingkat
pemikiran mereka. Piaget juga menyarankan pentingnya menilai
kesalahan-kesalahan anak dalam berpikir, bukan saja untuk membenarkan cara
berpikir mereka tetapi juga untuk membimbing mereka menuju tingkat pemahaman
yang lebih tinggi.
d. Gunakan
penilaian yang bersinambungan
Makna-makna yang
terkonstruksi secara individual tidak dapat diukur dengan tes-tes yang
distandarkan. Portofolio matematika dan bahasa (yang terdiri dari pekerjaan
yang belum selesai maupun hasil kerja yang lengkap), musyawarah-musyawarah
dimana murid dapat mendiskusikan strategi-strategi pemikiran mereka, serta
penjelasan-penjelasan verbal dan tertulis dari murid tentang
pemikiran-pemikiran mereka dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan mereka.
e. Tingkatkan
kesehatan intelektual murid
Bagi Piaget, pembelajaran
anak seharusnya terjadi secara alamiah. Anak-anak seharusnya tidak dipaksa dan
ditekan untuk belajar terlalu banyak dan terlalu dini dalam perkembangan
mereka, sebelum mereka siap dan matang. Banyak orang tua menghabiskan
berjam-jam setiap harinya memegang kartu-kartu bertuliskan kata-kata tertentu
untuk meningkatkan kosakata bayi mereka. Dalam pandangan penganut paham Piaget,
hal seperti itu bukanlah cara terbaik bayi belajar. Penekanan semacam itu
menimbulkan beban dalam mempercepat perkembangan intelektual, menjadikan proses
pembelajaran bersifat pasif dan tidak membawa hasil yang diharapkan.
f. Ubahlah
ruang kelas menjadi ruang untuk eksplorasi dan penemuan.
Guru-guru menekankan
eksplorasi dan penemuan murid. Ruang-ruang kelas memiliki struktur yang berbeda
dari ruang kelas pada umumnya. Buku-buku kerja dan tugas-tugas tidak digunakan.
Guru-guru justru mengobservasi minat para murid dan partisipasi alami mereka
dalam aktivitas-aktivitas yang
menentukan jalannya pembelajaran. Sebagai contoh, sebuah pelajaran matematika
mungkin disusun seputar menghitung uang makan siang atau membagi bekal.
Seringkali, permainan digunakan untuk menstimulasi pemikiran matematis.
Contohnya domino mengajari anak kombinasi bilangan genap. Guru-guru mendorong
interaksi antarmurid selama pelajaran dan permainan berlangsung karena
perbedaan sudut pandang murid justru memberikan kontribusi terhadap kemajuan berpikir mereka.
Meskipun
Piaget sendiri tidak
banyak menyinggung masalah teknik pendidikan dalam ulasan-ulasannya, tetapi
pokok-pokok pemikirannya dapat mewarnai “setting” dunia pendidikan. Hal
tersebut diantaranya :
a. Pendekatan
terpusat pada anak
Salah satu sumbangan
piaget yang sangat berarti bagi dunia pendidikan adalah bahwa pada hakikatnya
jalan pikiran anak terhadap dunia sekitar. Guru harus menyadari hal ini dan
mengobservasi anak dengan cermat untuk menemukan perspektifnya yang unik. Jadi
dalam hal ini yang terpenting adalah sisi sensitifitas guru.
b. Aktivitas
Untuk bisa mempelajari
sesuatu, anaka membutuhkan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap objek
yang dipelajari. Konsep piaget bahwa bagi individu -berapapun umurnya- proses
belajar yang paling baik didapatkan dari aktivitas yang merupakan inisiatif
sendiri, sangat penting implikasinya di bidang pendidikan. Piaget selalu
menekankan perlunya aktivitas tersebut baik fisik maupun mental. Menurut piaget
mengetahui suatu objek adalah dengan melakukan sesuatu pada objek tersebut.
Oleh karena itu, dalam aspek ini tugas guru adalah mendorong aktivitas anak
didiknya. Guru hendaknya memaparkan materi atau situasi yang mendorong anak
untuk merancang eksperimennya sendiri. Hal ini mengarahkan anak pada
pengetahuan yang lebih mendalam dan tersimpan dalam memori jangka panjang dari
pada sekedar ingatan terhadap fakta-fakta yang diinformasikan oleh guru atau
dari buku-buku teks.
c. Belajar
secara individual
Menurut piaget,
struktur kognitif anak yang berinteraksi dengan pengalaman baru menimbulkan
minat dan menstimulasi perkembangan kognitif yang lebih lanjut. Minat belajar akan
dimudahkan oleh adanya pengalaman baru yang selain relevan dengan struktur
kognitif yang telah dimilikinya, juga cukup berbeda sehingga menimbulkan
konflik pada anak. Oleh karena itu, pada usia yang sama struktur kognitif anak
berbeda satu dengan yang lainnya. Hal yang menarik bagi mereka pun tidaklah
sama, sehingga sebaiknya belajar secara individual dengan kebebasan pada tugas
yang dipilihnya sendiri. Guru dapat mengkoordinasikan ajaran individu dan
kelompok. Sesungguhnya yang dibutuhkan murid adalah kesempatan untuk belajar
dalam lingkungan yang kaya, dimana lingkungan tersebut secara potensial
mengandung elemen-elemen yang menarik. Murid membutuhkan guru yang sensitif
terhadap kebutuhan kognisinya. Selain itu, murid membutuhkan guru yang dapat
menilai materi apa yang akan menantang bagi muridnya pada waktu tertentu, dapat
mengevaluasi tahap kognisi murdinya serta menyajikan ide-ide baru yang
konsisten dengan perkembangan kognisinya. Guru hendaknya juga dapat menyajikan
pengetahuan dengan cara menarik minat dan mendorong aktivitas anak, serta dapat
membantu murid bila diperlukan.
d. Interaksi
sosial
Faktor lain yang
mempengaruhi perkembangan adalah pengalaman sosial atau interaksi dengan orang
lain, memang mula-mula anak mempunyai pikiran egosentris dalam arti anak hanya
memandang orang lain, objek atau kejadian sekitarnya dalam kaitan dengan dirinya
sendiri. Hal ini berarti bahwa pandangannya terhadap realitas tidak obyektif.
Dalam perkembangan kemudian, anak mampu mengerti sudut pandang orang lain.
Mulai saat itulah terbentuk pengertian yang lebih obyektif terhadap realitas,
sehingga salah satu cara untuk mengurangi egosentrisme adalah interaksi sosial.
Bila anak berbicara dengan orang lain, ia akan sampai kesadaran bahwa cara
pandang terhadap sesuatu bukanlah satu-satunya cara pandang. Orang lain pun
mempunyai pandangan sendiri yang mungkin berbeda dengan pandangan anak.
Interaksi sosial mengarahkan anak pada penyusunan argumentasi dan diskusi,
sehingga cara pandang anak dipertanyakan kebenarannya dan si anak harus
mempertahankan dan membuktikan kebenaran cara pandanganya. Tindakan ini memaksa
anak memperjelas cara pandangnya sendiri agar dapat meyakinkan orang lain.
Dengan demikian, interaksi sosial akan molong anak mengenal kekurangan dalam
pikirannya sendiri dan memaksanya untuk melihat cara pandang orang lain, yang
ungkin menimbulkan konflik dengan cara pandangnya sendiri. Konflik semacam itu
merupakan salah satu mekanisme dari perkembangan. Implikasi pandangan piaget
ini ialah bahwa peranan interaksi sosial di sekolah perlu dibina. Murid-murid
perlu bertukar pengalaman, memberikan alasan dan mempertahankan pendapatnya.
Semua hal tersebut merupakan cara yang penting untuk memperoleh pengetahuan.
2.
Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky dalam
Pendidikan
Slavin mengemukakan bahwa ada 2 implikasi utama dari penerapan
teori perkembangan kognitif Vygotsky:
a.
Menyusun rencana pembelajaran kooperatif di antara
kelompok-kelompok siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda.
Pengajaran pribadi oleh teman sebaya yang lebih kompeten dapat berjalan efektif
sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan pada zona perkembangan proksimal (Das,
1995), demikian pula interaksi di sekitar tugas-tugas yang rumit (Roth &
Lee, 2007).
b.
Pendekatan
pengajaran menekankan pentanggaan
(scaffolding), dengan siswa yang memikul makin banyak tanggung jawab
atas pembelajaran mereka sendiri. Guru memimpin kelompok-kelompok kecil siswa
untuk mengajukan pertanyaan tentang bahan ajar yang telah mereka baca dan
secara bertahap mengalihkan tanggung jawab untuk memimpin diskusi kepada siswa
(Pallincsar, Brown & Martin, 1987).
Selain itu, lebih rinci Santrock
menjabarkan teori perkembangan kognitif Vygotsky dalam hal implikasi utama
teori pembelajarannya yaitu:
a. Menilai
ZPD anak
Seperti Piaget,
Vygotsky tidak merekomendasi tes-tes formal terstandarisasi sebagai cara
terbaik dalam menilai kegiatan pembelajaran anak-anak. Bahkan Vygotsky
berpendapat bahwa penilaian seharusnya berfokus penentuan zona perkembangan
proksimal anak. Seorang pelatih yang terampil akan menyajikan kepada anak tugas-tugas
dengan kesulitan yang bervariasi untuk menentukan level yang terbaik dalam
menilai instruksi.
b. Menggunakan
zona perkembangan proksimal dalam mengajar
Mengajar
sebaiknya dimulai dengan mengarah daerah batas atas, supaya anak dapat meraih
sasaran melalui bantuan serta beranjak ke levelketerampilan dan pengetahuan
yang lebih tinggi. Tawarkan bantuan secukupnya. Anda dapat bertanya “apa yang
dapat saya lakukan untuk membantumu?” atau cukup sekedar mengobservasi
intensi-intensi dan usaha-usaha anak serta menyediakan dukungan apabila
diperlukan. Ketika anak ragu-ragu, besarkan hatinya. Doronglah juga agar anak
melatih keterampilan tersebut. Anda dapaat memperhatikan dan menghargai latihan
anak dan menawarkan dukungan ketika anak lupa apa yang harus diperbuat.
c. Menggunakan
kawan-kawan sebaya yang lebih terampil sebagai guru
Ingatlah bahwa tidak hanya orang dewasa yang dapat
berperan penting dalam membantu anak-anak belajar. Anak-anak juga memperoleh
keeuntungan melalui dukungan dan bimbingan yang diberikan oleh anak-anak yang
lebih terampil.
d. Tempatkan
intsruksi di dalam konteks yang bermakna
Kini para pendidik
sudah meninggalkan penyajian materi secara abstrak, kini mereka lebih banyak
menyediakan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar di dalam lingkungan
dunia yang nyata. Sebagai contoh,
daripada hanya sekedar mengingat rumus matematika para siswa bekerja
menyelesaikan soal-soal matematika dengan implikasi-implikasinya di dunia
nyata.
e. Mengubah
ruang kelas dengan ide-ide Vygotsky
ZPD adalah elemen kunci
intstruksi program ini. Anak-anak dapat membaca suatu cerita kemudian
menginterpretasikan artinya. Sebagian besar aktivitas itu dilakukan dalam
kelompok kecil. Semua anak menghabiskan waktu paling tidak 20 menit setiap pagi
dalam sebuah setting yang disebut “center one”. Dalam konteks ini scaffolding digunakan untuk meningkatkan
keterampilan literasi para siswa. Guru bertanya, merespon pertanyaan, serta
membangun ide-ide yang dihasilkan oleh siswa.
Papalia
juga menjelaskan mengenai bagaimana bentuk implementasi teori perkembangan
kognitif Vygotsky sebagai berikut:
Mungkin aplikasi yang paling terkenal
dari teori Vygotsky adalah dalam pengujian pendidikan. Memperluas konsep zona
perkembangan proksimal, Vygotsky menggunakan kemungkinan teori komprehensif
pertama pengujian dinamis. Program kurikuler berdasarkan prinsip Vygotskian
tersebar luas di rusia. Di Amerika Serikat program tersebut sering disebut komunitas
pelajar. Sebuah komunitas pelajar adalah program bersama di bawah pengendalian
bersama guru dan siswa, yang mengambil alih, memimpin, mengatur dan memonitor
belajar kelompok. Perkiraan kemampuan dalam kelompok membentuk beberapa zona perkembangan
proksimal, dan siswa yang kemampuannya kurang bisa menjadi lebih maju. Guru
dapat menggunakan penilaian yang dinamis untuk menilai seberapa baik siswa
telah memahami konsep-konsep ilmiah. Jika seorang anak mengetahui konsep,
seperti perbedaan antara mengkonsumsi daging dan vegetarian, guru akan menambah
pemahaman anak secara mendalam dengan mengusung contoh bertentangan dengan pemahaman
siswa atau dengan meminta anak untuk menerapkan konsep dalam cara baru.
Keberhasilan pembelajaran kolaboratif
sebagian besar tergantung pada kemampuan guru dan administrator untuk membuat perubahan
dari struktur kelas yang dikendalikan secara tradisional. Dari perspektif
Vygotskian, evaluasi pembelajaran kooperatif harus didasarkan pada 'bagaimana
individu berpartisipasi dan berkontribusi untuk kegiatan yang sedang
berlangsung' bukan pada apa pengetahuan dan keterampilan yang mereka telah capai.
Kriteria keberhasilan mungkin termasuk sejauh mana semua anggota berpartisipasi
aktif, peran mereka mengubah tujuan dan pemahaman tentang apa yang setiap orang
kontribusikan terhadap kegiatan kelompok
Konsep pembelajaran kolaboratif dari Vygotsky bukanlah acuan
di sebagian besar sekolah-sekolah AS. Dalam banyak kelas, anak-anak tidak
dianjurkan bahkan mendiskusikan pekerjaan mereka dengan anak-anak lain. Praktek
ini didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak akan mengalihkan perhatian satu sama
lain, mengubah waktu belajar menjadi bermain, dan mencegah satu sama lain dari
melakukan pekerjaan terbaik mereka. Namun penelitian menunjukkan bahwa
anak-anak belajar dengan baik ketika bekerja bersama-sama.
Dalam satu percobaan, siswa kelas empat
yang berpasangan dan diberikan untuk memecahkan masalah bersama-sama datang
dengan hipotesis yang lebih baik daripada pasangan yang diminta untuk tidak
berbicara saat mereka bekerja. Dalam studi lain, siswa kelas empat menulis
cerita yang lebih baik dengan anak-anak lain, daripada yang mereka lakukan
sendiri. Bekerja sebagai tim, berkonsentrasi pada tugas, mengelaborasi ide satu
sama lain dan saling memberi saran merupakan alternatif pembelajaran yang
efektif.
Apa yang membuat kerjasama antar teman berhasil?
karena teman-teman saling mengenal dengan baik, mereka dapat lebih memahami
kebutuhan masing-masing, kemampuan, dan perilaku. Mereka bisa mendapatkan
timbal balik, mereka lebih nyaman dan percaya; sehingga mereka memiliki lebih
banyak keberanian untuk mengambil risiko intelektual. Mendorong kerjasama
semacam ini adalah langkah sederhana yang bisa diambil guru untuk menerapkan
prinsip vygotsky di kelas.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas,
beberapa hal pokok yang bisa diimplementasikan dalam pendidikan mengacu pada teori
perkembangan Piaget antara lain:
a. Menghendaki
setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling
memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masing-masing
zone of proximal development mereka.
b. Pendekatan
Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori
belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif
karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu
interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha
menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah.
D.
EVALUASI
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF
1.
Evaluasi
Terhadap Teori Perkembangan Kognitif Piaget
a. Asumsi-asumsi
Perihal Kompetensi Anak
Beberapa
kemampuan kognitif muncul lebih awal dari yang diasumsikan Piaget. Contohnya
seperti telah dicatat sebelumnya, beberapa aspek permanensi objek muncul lebih
awal dari yang ia yakini. Seorang anak berusia 2 tahun tidak selalu bersifat
egosentris dalam konteks tertentu. Ketika mereka menyadari bahwa orang lain tidak melihat
suatu objek, mereka akan mengecek apakah orang tersebut tertutup matanya atau
melihat kea rah lain. Beberapa pemahaman konservasi angka telah ditunjukkan
oleh anak usia 3 tahun, meskipun Piaget menyatakan hal tersebut belum muncul
hingga anak berusia 7 tahun. Anak-anak pada usia dini tidak secara seragam
mendapat predikat “pra” ini dan itu (prakausal, praoperasional) seperti yang
diperkirakan Piaget.
b. Tahapan-tahapan
Piaget menyusun
tahapan-tahapan sebagai struktur pikiran yang utuh. Jadi, teorinya
mengasumsikan adanya sinkronisasi perkembangan, artinya aspek-aspek yang
variatif dalam suatu tahapan seharusnya muncul bersamaa. Akan tetapi beberapa
konsep operasional konkret tidak muncul secara sinkron. Contohnya, anak tidak
belajar mengkonservasi saat mereka belajar klasifikasi silang. Oleh karena itu,
sebagian besar penganut aliran perkembangan kotemporer setuju bahwa
perkembangan kognitif anak tidaklah berupa tahapan seperti yang diperkirakan
Piaget.
c. Efek
– efek Pelatihan
Beberapa anak
yang berada di satu tahapan kognitif (seperti praoperasional) dapat dilatih
berpikir pada tahapan kognitif yang lebih tinggi (seperti operasional konkret).
Ini menimbulkan masalah bagi teori Piaget. Piaget berpendapat bahwa latihan
semacam itu bersifat dangkal dan tidak efektif, kecuali jika anak tersebut
berada titik transisi kedewasaan rasional pada tahapan-tahapan tersebut.
d. Budaya
dan Pendidikan
Budaya dan
pendidikan memberikan pengaruh yang lebih kuat pada perkembangan anak daripada
yang diyakini Piaget. Contohnya, usia saat anak mendapatkan keahlian konservasi
dipengaruhi praktik budaya mereka. Seorang guru dan pendidik terkemuka di
bidang logika matematika dan sains dapat mendorong pemikiran operasional
konkret dan formal.
e. Sebuah
Pandangan Alternatif
Penganut aliran
Neo-Piaget berpendapat bahwa beberapa hal yang dikemukakan Piaget adalah benar,
mesipun teorinya memerlukan banyak revisi. Aliran ini memberikan penekanan pada
cara anak menggunakan perhatian, memori, dan strategi untuk memproses
informasi. Mereka yakin bahwa penggambaran yang lebih akurat mengenai pemikiran
anak memerlukan perhatian pada strategi-strategi anak, kecepatan anak memproses
informasi, keterlibatan tugas khusu, dan pembagian permasalahan ke dalam
langkah-langkah yang lebig kecil dan tepat.
2.
Evaluasi
Terhadap Teori Perkembangan Kognitif Vygtsky
Teori Vygotsky menekankan peran penting
pengajaran dan membantu anak untuk mengerti variasi budaya yang luas dalam keterampilannya.
Akan tetapi, teori ini mendapat kritikan bahwa tidak di semua budaya teori
tersebut dapat dilakukan. Komunikasi verbal bukan satu-satunya sarana bagi
perkembangan pemikiran atau mental anak, melainkan melalui observasi dan
partisipasi dalam komunitas dapat mengembangkan pemikiran anak yang disesuaikan
dengan budaya di sekitarnya. Selain itu kritik akan teori Vygotsky lainnya
yaitu teori tersebut tidak banyak menyinggung keterampilan motorik kasar,
persepsi, atensi, memori, dan pemecahan masalah. Misalnya, teori Vygotsky tidak
membahas bagaimana semua kemampuan dasar dapat memicu perubahan dalam
pengalaman sosial anak-anak yang menjadi sumber bagi perkembangan kognisi yang
lebih maju.
Beberapa kritikus mengatakan bahwa
Vygotsky terlalu menekankan peran bahasa
dalam berpikir. Penekanan Vygotsky pada kolaborasi dan pembimbingan juga
dipermasalahkan. Dimungkinkan para fasilitator menolong secara berlebihan dalam
beberapa kasus dimana orang tua murid menjadi sangat memaksa dan menguasai
anak-anak mereka. Lebih jauh, beberapa anak mungkin menjadi malas dan
mengharapkan bantuan ketika mereka telah berhasil melakukan sesuatu.
Papalia
juga menyatakan lebih detail mengenai evaluasi terhadap teori Vygotsky. Teori
Vygotsky menawarkan wawasan yang kuat dan asli ada peran sejarah dan budaya tentang
pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif. Hal ini mengingatkan
kita bahwa perkembangan anak merupakan bagian dari perkembangan berkelanjutan dari
masyarakat dan spesies manusia.
Mungkin karena Vygotsky meninggal pada usia
37 tahun sehingga sedikit dikenal di wilayah barat sampai kuartal terakhir abad
kedua puluh, teorinya tidak seperti yang diisi atau sepenuhnya diteliti Piaget.
Bahkan para pengikutnya tidak setuju tentang arti beberapa idenya dan bagaimana
mereka harus menerapkannya. Salah satu kelemahan penting adalah kurangnya
kriteria normatif untuk perkembangan. Apa yang membedakan perkembangan dari sekedar
perubahan? bagaimana kita tahu bahwa pikiran anak lebih berkembang dari seorang
bayi, atau bahwa pikiran manusia lebih berkembang daripada kera?
Kelemahan lain yang ironis adalah
kegagalan Vygotsky untuk menyajikan konsep perkembangan yang baik dari budaya. Selain
itu, pandangan evolusioner tentang budaya menyiratkan pertimbangan nilai
tentang 'primitif' dan 'maju' budaya itu sendiri. Dalam tulisan-tulisan
selanjutnya Vygotsky berpindah dari karakterisasi umum bentuk budaya yang
berasal dari fungsi mental dan mulai menekankan bagaimana berbagai bentuk fungsi
dalam suatu budaya dipengaruhi oleh aturan khusus dan kegiatan, seperti sekolah
formal.
Penekanan Vygotsky pada asal-usul sosial
dari fungsi mental kadang-kadang salah mengartikan sebagai aktif meminimalkan
peran kreatif individu. Teorinya dapat ditafsirkan secara mekanis, seperti
menyiratkan bahwa seorang anak hanya menanggapi kekuatan lingkungan. Namun,
melihat lebih dekat pada tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa ia menggambarkan
sesuatu yang lebih halus dan kompleks: tindakan individu dan inisiatif dalam
batas-batas yang ditetapkan oleh alat-alat budaya yang tersedia
Salah satu hasil dari kebangkitan
kembali minat dalam Vygotsky telah mengalihkan perhatian penelitian dari
individu untuk lebih berinteraksi antara orang tua dan anak, saudara dan saudara,
seluruh keluarga atau kelas. Mereka melihat bagaimana keterlibatan anak-anak
dalam satu kegiatan bersama, seperti bermain dengan saudara, membawa ke
kegiatan lain seperti pemecahan masalah dengan rekan-rekan. Namun, sebagian
besar kegiatan penelitian ini adalah direncanakan bukan terjadi secara alami.
Kita tahu sedikit tentang apa yang terjadi ketika anak-anak berinteraksi secara
normal dengan orang lain atau anak-anak lain dengan interaksi sebagai tujuan
sadar. Ketika peneliti melakukan observasi naturalistik misalnya dengan meminta
orang tua untuk bermain secara alami dengan anak-anak mereka memberikan sedikit
atau tidak ada perhatian terhadap peran mereka sendiri dalam membuat
permintaan. Akhirnya, sebagian besar penelitian telah dilakukan dengan kelas
menengah di benua Amerika dan Eropa.
E.
PERBANDINGAN ANTARA TEORI PIAGET DAN VYGOTSKY
Setelah mengulas panjang lebar
mengenai teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky pada bahasan
sebelumnya, dapat terlihat bahwa diantara keduanya mempunyai pandangan yang
berbeda pada beberapa aspek. Secara garis besar perbandingan antara kedua teori
tersebut dapat terlihat dalam tabel di bawah ini
Tabel 2.8 Perbandingan
Antara Teori Piaget Dan Vygotsky
|
Aspek
|
Vygotsky
|
Piaget
|
|
Konteks
sosial-kultural
|
Sangat ditekankan
|
Kurang ditekankan
|
|
Konstruktivisme
|
Konstruktivis sosial
|
Konstruktivis
kognitif
|
|
Tahap-tahap
|
Tidak ada tahap-tahap
perkembangan umum
|
Memberi penekanan
yang kuat pada tahap-tahap (sensori motorik, praoperasional, operasional
kongkrit, dan operasional formal)
|
|
Proses
kunci
|
Zone
of proximal development, bahasa, dialog,
sejumlah perlengkapan budaya
|
Skema, asimilasi,
akomodasi, operasi, konservasi, klasifikasi, penalaran hipotesis
deduktif-induktif
|
|
Peran
bahasa
|
Peran utama : bahasa
memainkan peran yang penting dalam membentuk pikiran
|
Bahasa memiliki peran
minimal, kognisi terutama mengarahkan bahasa
|
|
Pandangan
mengenai pendidikan
|
Pendidikan memainkan
peran penting, membantu anak-anak mempelajari perlengkapan budaya
|
Pendidikan hanya menghaluskan
ketrampilan kognitif anak yang telah muncul
|
|
Implikasi
pengajaran
|
Guru sebagai
fasilitator dan pembimbing, bukan sebagai pengarah; meraih banyak kesempatan
bagi anak-anak untuk belajar dengan guru dan kawan-kawan sebaya yang lebih
terampil
|
Juga memandang guru
sebagai fasilitator dan pembimbing; bukan sebagai pengarah; menyediakan
dukungan bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia mereka dan menemukan
pengetahuannya
|
Baller,
W. R dan Charles, D.C. The Psychology
of Human Growth and Development. (New York: Rein Holt, 1986), h. 101
Anita,
Woolfolk. Educational Psychology. 9th Edition. Englewood Cliffs, (New Jersey: Prentice-Hall, Inc, 2004)..
h. 29